Haruskah Kita Melakukan Proses Defrag Pada SSD?

SSD kini menjadi perangkat penyimpanan standar untuk semua kalangan, tidak hanya kalangan untuk tertentu saja. Bahkan SSD bisa menjadi upgrade yang signifikan bagi sistem anda, dimana mereka jauh lebih kecil, lebih cepat dan bisa diandalkan hingga waktu yang sangat lama. Ketika semua orang merasa terkesan mengenai perangkat ini, ada banyak pertanyaan umum yang sering menghantui para penggemar, diantaranya adalah Haruskah Kita Melakukan Proses Defrag Pada SSD?

Kita pasti ingat hari-hari ketika solid state drive merupakan sesuatu yang sangat mahal untuk didapatkan, apalagi kapasitas yang dihadirkan terhitung sangat sedikit (seperti halnya Flashdisk di hari-hari awal). Sejak dari dulu kita mungkin mengenal bahwa jika kita  ingin meningkatkan kecepatan penyimpanan pada sistem, pilihan de-fragmentasi harusnya sudah cukup ideal sebagai langkah pertama. Sebelum kita berbicara lebih tentang Defrag Pada SSD merupakan ide bagus, sangat penting terlebih dahulu untuk memahami cara kerja SSD dengan HDD Tradisional.

Baca Juga : 3 Faktor Utama Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Membeli SSD

Jadi, bagaimana SSD dan HDD bekerja?

HDD beroperasi menggunakan piring pemintalan fisik, dimana mereka menyebutnya sebagai drive ‘head’ yang harus diposisikan sesuai data yang benar. (Anggap saja seperti pemutar rekaman, hanya ia bisa berputar jauh lebih cepat.) Data disimpan di berbagai bagian piring dalam blok berurutan. Agar bisa mengakses blok baik untuk proses membaca atau menulis, kepala penggerak harus diposisikan di atas sektor yang benar (seek time), dan blok yang diinginkan harus lewat di bagian bawah kepala penggerak (rotational latency). Gabungan kedua langkah ini akan memberi waktu akses untuk sebuah drive. Ketika anda memiliki HDD dengan kecepatan drive 7,200 rpm yang khas, latency rotasi adalah 4,17ms (setengah dari satu rotasi) dan waktu pencarian sekitar 8-12 ms.

Dengan proses tersebut, data yang dulunya diurutkan secara berurutan pada drive bisa dibagi pada blok yang berbeda. Ini disebut fragmentasi, dan karena ini terjadi, kepala pengemudi perlu mengakses data dari dua (atau lebih-kadang-kadang lebih banyak) bagian yang berbeda dari piringan tersebut sehingga secara drastis proses ini akan menurunkan kinerja. Nah, hadirnya Defragmentation akan mengubah blok data secara berurutan dan mencoba untuk mengembalikan kinerja asli hard drive.

Berbeda halnya dengan perangkat SSD, dimana ia tidak akan mendapatkan keuntungan dari proses defragmentasi. Itu karena didalam perangkat ini, anda tidak akan melihat bagian yang bergerak, seperti apa yang tercantum pada namanya “Solid State”, sehingga tidak ada waktu untuk proses pencarian atau latency rotasi. Sebagai gantinya, SSD mengakses memori flash (NAND) dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, biasanya kurang dari 50us – yaitu 50 mikrodetik, atau dibandingkan dengan hard drive biasa dengan waktu akses rata-rata 15ms, perbandingannya sekitar 300 kali lebih cepat. Tapi ada lebih banyak cerita daripada hanya kecepatan.

SSD tidak hanya menghilangkan bagian yang bergerak dan memperbaiki waktu akses, namun juga memiliki algoritma penyamarataan bawaan. Alasannya adalah bahwa gerbang NAND akan aus dari waktu ke waktu, dan dinilai dalam siklus program / penghapusan. SSD memiliki setiap sel yang dapat menuulis antara 1.000-3000 kali sebelum sel berhenti bekerja dengan baik. Untuk menghindari sel individual yang mengandung data yang sering berubah agar tidak memakai baterai lebih cepat terkuras, penggunaan jalur SSD setiap blok dan algoritma harus di setel untuk bisa memastikan sel pada SSD dari waktu-ke waktu ditulis dengan jumlah yang sama. Ada juga blok tambahan yang tidak dapat diakses pengguna (disebut space area) yang dapat digunakan algoritma untuk mencegah agar perangkat tidak berkedip.

Jadi, Perlukah Kita melakukan Defrag Pada SSD ?

Dan karena cara kerja SSD ini jauh berbeda dengan HDD tradisional, dimana data tidak akan terfragmentasi, menjalankan utilitas defragmentasi akan benar-benar membakar program / menghapus siklus dan berpotensi menyebabkan kematian dini pada SSD Anda. Ini bukan sesuatu yang akan terjadi begitu cepat, contohnya jika anda memiliki Samsung 850 Evo 500GB sebyang memiliki nilai 150TB dari total penulisan, atau setara jika anda menulis ke setiap blok drive minimal 300 kali. Dengan pengguna biasa rata-rata menulis kurang dari 20GB per hari, akan dibutuhkan lebih dari 20 tahun untuk membakar 150TB total  penulisan. Tapi jika anda sering melakukan proses defragmenting, dimana proses ini bisa dengan mudah menulis ratusan GB data, SSD yang anda miliki akan jauh lebih cepat mati terlalu dini.

Untungnya, setiap program defragmentasi yang layak digunakan biasanya akan mendeteksi adanya SSD dan memperingatkan pengguna untuk tidak men-defrag perangkat tersebut. Jadi selamatkan waktumu dan lakukan sesuatu yang lebih bermanfaat seperti bermain game daripada melakukan Defrag Pada SSD. Semoga bermanfaat.


 Baca Juga :

Loading…

Comments

Related Posts