>
Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler! - Murdockcruz

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Hari ini kita akan mencatatkan sejarah baru di industri komponen PC dunia. Di meja pengujian Murdockcruz saat ini, sudah mendarat sebuah perangkat pendingin yang kehadirannya sangat diantisipasi sekaligus sempat dianggap sekadar mitos belaka. Setelah belasan tahun kukuh bertahan sebagai raja pendingin udara (air cooler), pabrikan legendaris asal Austria, Noctua, akhirnya resmi menjawab tantangan zaman dengan merilis jajaran All-in-One (AIO) liquid cooler pertama dalam sejarah mereka.

Murdockcruz menjadi salah satu reviewer pertama di Indonesia yang beruntung mendapatkan sampel eksklusif ini langsung dari markas pusat mereka. Sebenarnya, Noctua mengirimkan dua varian sekaligus ke studio, termasuk versi radiator 240mm (NL-LC1-24). Namun, agar pembahasannya lebih adil dan mampu menguji batas performa maksimalnya, mari kita bedah habis kasta tertingginya terlebih dahulu: Noctua NL-LC1-36 ukuran 360mm, lengkap dengan aksesori kipas tambahan VRM seharga Rp350 ribuan (NL-ACF1) yang dijual terpisah.

Baca juga: Review PCCooler KN850: PSU 850W Gold Termurah, Harga Merusak Pasar!

Harga Premium 

Sebagai produk perdana dari brand yang terkenal sangat idealis, jangan harap perangkat ini bakal dibanderol dengan harga ekonomis. Noctua NL-LC1 diposisikan sebagai kasta tertinggi di pasar liquid cooling premium global melalui Amazon.

Meskipun saat artikel ini ditulis barangnya belum resmi mendarat secara fisik di pasar ritel Indonesia, perkiraan harganya sudah bisa dihitung jika ditambah dengan beban pajak impor, bea cukai, serta margin distributor lokal:

  • Varian 240mm (NL-LC1-24): USD 219.90 (Sekitar Rp3,9 Jutaan)
  • Varian 360mm (NL-LC1-36): USD 249.90 (Sekitar Rp4,4 Jutaan)
  • Varian 420mm (NL-LC1-42): USD 279.90 (Sekitar Rp4,9 Jutaan)
  • Kipas Tambahan VRM (NL-ACF1): USD 19.90 (Sekitar Rp350 Ribuan)

Sebuah nominal yang luar biasa mahal untuk sistem pendingin prosesor. Namun, apakah kelengkapan isi kotaknya sepadan dengan investasi yang dikeluarkan? Mari kita geser ke sesi Design Preview dan unboxing taktisnya berikut ini.

Design Preview

Begitu kotak kemasan Noctua NL-LC1-36 ini mendarat di studio, impresi pertamanya beneran terasa sangat premium dan berbobot. Berbeda dengan mayoritas brand AIO masa kini yang isi kotaknya sering kali ringkih atau dibungkus plastik seadanya, Noctua memperlakukan seluruh isi boks ini dengan sangat istimewa.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Seluruh part esensial seperti braket, kabel-kabel, hingga aksesori pendukung dipisah dengan rapi dalam kompartemen kardus mini masing-masing. Menariknya, Noctua tidak menggunakan standar sekrup plus (+) biasa untuk mengunci kipas dan radiator, melainkan memakai standar baut Torx T20. Tidak perlu repot mencari perkakas baru ke toko bangunan, karena di dalam boksnya Noctua sudah menyediakan obeng premium khusus bertipe NM-SD1 Torx T20 secara cuma-cuma.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Bagaimana dengan urusan visualnya? Di sinilah letak idealisme Noctua yang sebenarnya. Di tengah gempuran tren AIO zaman sekarang yang wajib memakai lampu RGB warna-warni layaknya pasar malam atau layar LCD raksasa di atas pompa untuk memutar video, Noctua bergeming total.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Mereka tetap setia dengan jati diri estetikanya yang sangat ikonik: Perpaduan warna cokelat tua dan krem khas! Skema warna legendaris yang sangat dicintai oleh para antusias performa, sekaligus dihindari oleh kaum perakit PC bertema putih minimalis. Tidak ada lampu kelap-kelip, tidak ada hiasan kosmetik murahan. Yang ada hanyalah sebuah plat logo besi logam bertuliskan “Noctua” yang tampak kokoh, elegan, dan memancarkan aura high-performance hardware murni.

Catatan Kritis

Proses pemasangan AIO ini ke komputer harian terhitung sangat mudah. Mengandalkan sistem pengait legendaris SecuFirm2+, perakit tidak perlu pusing menyusun banyak baut kecil yang membingungkan.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Apalagi kalau dipasang di platform CPU AMD, tinggal membongkar braket plastik bawaan motherboard, lalu langsung ganti dengan tiang braket logam milik Noctua.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Cepat dan presisi. Di dalam boks, sudah langsung disuguhkan bonus pasta termal premium NT-H2, kain pembersih khusus, hingga cetakan pengaman pasta NA-TPG1 agar pasta tidak belepotan keluar di sela-sela silikon soket AMD AM5.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Meski demikian, selama proses perakitan, kami menemukan tiga catatan kritis penting yang wajib diperhatikan:

  • Kabel Kipas Terlalu Pendek: Kabel bawaan murni dari kipas NF-A12x25 G2 terhitung sangat pendek. Meskipun Noctua menyediakan kabel cabang 3-way (NA-SC1) dan kabel perpanjangan (extension) 30cm di dalam boks, proses manajemen kabelnya (cable management) di balik bodi casing bakal terasa sedikit tricky dan butuh ketelatenan ekstra agar tidak ruwet.
  • Posisi Kabel Pompa yang Mengganggu: Kabel keluaran daya dari area pompa posisinya didesain agak terlalu intim alias dekat sekali dengan lubang baut pengunci braket utama. Efeknya, ruang gerak obeng Torx bawaan agak sedikit terhalang saat mau mengencangkan posisi pompa ke CPU. Bukan minus besar, tapi semoga bisa dipindahkan posisinya di revisi versi masa depan.
  • Sakelar Profil Fisik yang Merepotkan: Tepat di area unit pompa, Noctua menyediakan sakelar fisik untuk memindahkan tiga profil kecepatan pompa secara instan, yaitu Quiet Mode (bawaan pabrik), Balance Mode, dan Manual Mode (untuk RPM mentok kanan).

Masalahnya, posisi sakelar ini ada di dalam bodi. Jadi kalau PC sudah telanjur dirakit rapi di dalam casing, pengguna harus membongkar panel samping kaca dan sedikit menyibak pipa selang karet (softtube) hanya untuk sekadar memencet tombol ini. Agak ribet, padahal fitur pengaturan RPM dinamis ini sebenarnya sudah bisa dikendalikan secara otomatis lewat software bawaan motherboard modern seperti ASUS.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Secara keseluruhan, dari segi kualitas material, kelengkapan isi boks yang sangat royal, hingga kemudahan instalasi, AIO pertama dari Noctua ini sukses memberikan impresi awal yang sangat berkelas bagi para kaum antusias hardware.

Noctua NL-ACF1

Nah, sekarang kita bahas kipas tambahan seharga 350 ribuan ini, yaitu Noctua NL-ACF1. Biar gak salah paham, ini sebenernya bukan kipas yang dipasang langsung di area VRM motherboard, melainkan nangkring tepat di atas unit pompa yang deket sama CPU.

Review Noctua NL-LC1-36: Akhirnya Sekte Cokelat Bikin AIO Liquid Cooler!

Cara pasangnya gampang banget dan udah pakai sistem magnet. Tapi ingat, sebelum dipasang, kalian wajib nyabut dulu plat logo logam Noctua bawaan yang ada di atas pompanya. Tinggal lepas, lalu tempel kipasnya, langsung ‘klek’ terpasang kuat.

Urusan perkabelan juga aman. Kabel bawaan kipas tambahan ini terhitung panjang. Plus, Noctua udah nyediain kabel cabang tambahan di dalam boksnya, jadi jalur kabel kipas ini bisa langsung kalian split atau gabungin bareng kabel pompa menuju ke satu header di motherboard. Simpel dan gak bikin berantakan!”

Detail Spesifikasi Noctua NL-LC1-36

Sebelum melihat bagaimana kemampuannya saat disiksa di dalam ruang pengujian, penting untuk memahami apa saja modal teknis yang ditawarkan oleh pendingin air komersial perdana dari pabrikan Austria ini. Noctua merancang produk ini bukan sebagai komponen musiman, melainkan sebagai investasi jangka panjang yang dibuktikan dengan pemberian masa garansi penuh hingga 6 tahun.

AIO Liquid Cooler Noctua

Spesifikasi Pompa & Radiator:

  • Arsitektur Pompa: Asetek Emma V2 (Gen8 V2)
  • Kecepatan Rotasi Pompa: 750 hingga ~3.600 RPM (±10%) via 4-Pin PWM
  • Material Cold Plate:95% CU110 Pure Copper dengan Micro-Skived Fin Array
  • Cairan Pendingin (Coolant): Campuran air demineralisasi dan propylene glycol (anti-korosi & anti-biologis)
  • Material & Panjang Selang: EPDM Tubing 410mm dengan Braided Sleeving berkualitas tinggi
  • Form Factor Radiator: 360 mm
  • Skor NSPR (Noctua Standardised Performance Rating): 248
  • Kesesuaian Soket Prosesor: AMD AM5, AM4, serta Intel LGA1700, LGA1851, dan LGA1954
  • Masa Garansi: 6 Tahun

Jantung utama dari sistem pendinginan ini mengandalkan kolaborasi strategis bersama Asetek melalui arsitektur pompa flagship terbaru mereka, yakni Asetek Emma V2 atau yang sering disebut sebagai pompa Generasi ke-8 Versi 2.

AIO Liquid Cooler Noctua

Komponen pompa ini beroperasi menggunakan sistem closed-impeller terkomputerisasi yang mampu berputar dinamis mulai dari kecepatan rendah 750 RPM hingga kecepatan penuh menyentuh angka 3.600 RPM lewat kendali kabel 4-Pin PWM.

Peningkatan mekanis pada internal pompa ini diklaim mampu menghasilkan daya dorong aliran air atau flow rate hingga 58% lebih tinggi serta tekanan statis cairan yang melonjak 124% lebih kuat dibanding modul pompa generasi terdahulu, namun dengan konsumsi energi yang justru 40% lebih efisien.

Spesifikasi Kipas Bawaan (NF-A12x25 G2 PWM):

  • Ukuran Dimensi: 120 x 120 x 25 mm (Square)
  • Rentang Kecepatan: 0 – 1800 RPM
  • Aliran Udara Maksimal (Airflow):3 m³/h (63.15 CFM)
  • Tekanan Statis Maksimal:14 mm H₂O
  • Kebisingan Akustik Maksimal:5 dB(A)
  • Konektor: 4-pin PWM dengan Skema Kecepatan Terhuyung (Speed-offset PPA/PPB/PPA)

Sementara untuk urusan membuang kalor panas dari area radiator berukuran 360 mm, Noctua menaruh seluruh reputasinya pada tiga unit kipas mutakhir generasi terbaru, NF-A12x25 G2 PWM. Kipas berukuran 120 mm ini memiliki karakter tekanan statis tinggi yang sengaja dioptimalkan untuk menembus kisi-kisi radiator yang padat.

Keunikan dari trio kipas bawaan ini terletak pada sistem konfigurasi kecepatan terhuyung (speed-offset) dengan skema khusus. Skema ini sengaja membedakan rentang rotasi antar-kipas yang bersebelahan guna mencegah terjadinya resonansi frekuensi suara yang seragam.

Hasilnya, meskipun ketiga kipas dipaksa bekerja keras, tingkat kebisingan akustik maksimalnya diklaim mampu bertahan di bawah angka 22,5 dB(A). Seluruh kombinasi rancangan teknis ini membuahkan skor NSPR atau Noctua Standardised Performance Rating sebesar 248, sebuah standardisasi internal yang menunjukkan kapasitas pelepasan panas tingkat tinggi.

Performa

Untuk membuktikan apakah spesifikasi mewah tersebut mampu berbicara banyak di dunia nyata, sistem pengujian disusun menggunakan kombinasi komponen yang terkenal sangat haus daya dan agresif dalam memproduksi panas dengan komponen utama diantaranya:

Spesifikasi Komputer Uji (Testbed):

  • Prosesor: AMD Ryzen 9 7950X (16 Cores / 32 Threads, Up to 5.7 GHz)
  • Motherboard: ASUS ROG Strix X670E-E Gaming WiFi
  • Memori RAM: DDR5 32GB 6400 MHz T-Force Delta
  • Media Penyimpanan: SSD 1TB PCIe Gen3x4
  • Kartu Grafis: ASUS Prime Radeon RX 9060 XT 16GB
  • Power Supply: FSP Hydro PTM Pro 850W
  • Casing: PCCooler C3 T700
  • Pasta Termal: NT-H2 Thermal Compound (Bawaan Paket Noctua)
  • Komponen Tambahan: Kipas Tambahan VRM Noctua NL-ACF1 (Diuji pada sesi khusus)

Semua pengaturan BIOS dibiarkan berjalan pada kondisi Default dengan target profil performa TDP 170W+. Pengujian dilakukan menggunakan skenario Throttling Test selama 10 menit nonstop pada aplikasi Cinebench R23 Multicore untuk mensimulasikan beban kerja rendering profesional yang ekstrem.

Untuk menguji bagaimana perbedaan performa Noctua NL-LC1-36 ini, kami memakai mode tombol mode kecepatan manual yang dibawa AIO ini, ada Quite Mode, Balance mode dan Manual. Kita liat seberapa efektif tiap mode ini bisa mendinginkan prosesor monster sekelas Ryzen 9 7950X.

Data Hasil Pengujian Mentah

Berikut merupakan rekaman performa data sensor yang berhasil dihimpun selama proses penyiksaan 10 menit di masing-masing profil pompa, serta skenario tambahan dengan Kipas VRM (NL-ACF1):

AIO Liquid Cooler Noctua

Skenario pengujian pertama dimulai pada Quiet Mode, di mana pompa berputar santai di angka 1632 RPM dan kipas radiator bekerja di kecepatan rata-rata 2077 RPM. Pada mode ini, suhu tertinggi CPU Package rata-rata tercatat menyentuh angka 94,56°C dengan suhu rata-rata inti prosesor berada di 88,59°C.

AIO Liquid Cooler Noctua

Dalam kondisi yang relatif sunyi ini, prosesor masih mampu menyerap daya sebesar 212,1 Watt dan mempertahankan kecepatan clock rata-rata di angka 5082 MHz, yang menghasilkan skor performa Cinebench R23 sebesar 36.566 poin.

AIO Liquid Cooler Noctua

Kejutan mulai terlihat saat pengujian dialihkan ke Balance Mode. Di sini, kecepatan kipas radiator otomatis naik ke angka 2864 RPM dengan putaran pompa yang sedikit meningkat di 1646 RPM. Secara logika, peningkatan kecepatan kipas seharusnya membuat suhu turun drastis, namun sensor mencatat suhu CPU Package hanya turun tipis ke angka 93,29°C dengan suhu inti rata-rata di 87,02°C.

Menariknya, penurunan suhu yang sedikit ini justru direspons oleh algoritma internal prosesor dengan menarik pasokan daya listrik yang jauh lebih besar, melonjak hingga menyentuh 227,7 Watt. Karena pasokan daya bertambah besar demi mengejar stabilitas kerja, kecepatan clock rata-rata sedikit menyesuaikan ke angka 5013 MHz, namun mampu mengatrol skor akhir Cinebench R23 naik menjadi 36.878 poin.

AIO Liquid Cooler Noctua

Anomali terbesar justru muncul saat sistem dipaksa berjalan pada Manual Mode, di mana kecepatan kipas radiator langsung diperas habis hingga mentok kanan di angka 3399 RPM dan pompa berjalan di kecepatan penuh 1662 RPM. Alih-alih mendapatkan suhu yang paling dingin, sensor justru mencatat suhu CPU Package kembali merangkak naik ke angka 94,47°C dengan suhu inti di 88,56°C, hampir setara dengan kondisi Quiet Mode yang putaran kipasnya jauh lebih lambat.

Dampak dari suhu yang tinggi ini membuat pasokan daya dari prosesor otomatis tertahan di angka 215,6 Watt dengan kecepatan clock rata-rata di 5049 MHz, sehingga raihan skor Cinebench R23 sedikit melorot ke angka 36.835 poin.

Puncak dari seluruh rangkaian pengujian ini terjadi saat Balance Mode dikombinasikan dengan pemasangan aksesori kipas tambahan VRM, Noctua NL-ACF1, yang diposisikan tepat di atas unit pompa. Hasil yang ditunjukkan oleh sensor langsung bergeser secara dramatis dan menempatkan skenario ini sebagai jawara mutlak. Suhu CPU Package berhasil ditekan hingga menyentuh angka terendah sepanjang pengujian, yaitu 91,69°C, dengan suhu inti rata-rata yang ikut turun ke 86,90°C.

Penurunan suhu yang signifikan ini langsung disambut baik oleh prosesor, di mana konsumsi daya CPU Package Power sukses melesat ke angka tertinggi mencapai 228,8 Watt. Hebatnya lagi, kecepatan kipas radiator tidak perlu bekerja keras dan cukup berputar di angka 2081 RPM saja dengan putaran pompa yang stabil di 1649 RPM. Efisiensi luar biasa ini langsung berimbas pada raihan skor performa Cinebench R23 yang melonjak tajam hingga menembus angka 37.303 poin, dengan kecepatan clock rata-rata yang terjaga kokoh di 5074 MHz.

Melihat data di atas, ada sebuah fenomena aneh yang sangat menarik untuk dibedah secara teknis. Mengapa Manual Mode yang memaksa kipas berputar ekstrem di angka 3399 RPM justru menghasilkan suhu yang lebih panas dan performa yang kalah dibanding Balance Mode? Mari kita bedah alasannya.

Anomali Manual Mode vs Balance Mode

Ada dua faktor utama mengapa putaran kipas maksimal pada Manual Mode terkesan “gagal” menjinakkan panas secara superior.

Pertama Karakteristik Thermal Throttling AMD Ryzen 7000 Series: Prosesor Ryzen 9 7950X dirancang oleh AMD dengan algoritma Precision Boost Overdrive (PBO) yang agresif. Arsitektur ini akan terus membakar daya dan menaikkan clockspeed selama mendeteksi masih ada jarak ruang termal (thermal headroom), hingga menyentuh batas TjMax di angka 95°C.

Ketika menggunakan Balance Mode, sirkulasi pendinginan bekerja pada titik efisiensi terbaiknya, membuat suhu sempat turun ke 93,29°C. Karena PBO melihat suhu ini aman dan stabil, sistem langsung menyuplai daya lebih besar hingga melonjak ke 227,7 Watt. Sebaliknya, pada Manual Mode, perubahan suhu yang terlalu instan membuat algoritma PBO mendistribusikan daya secara ragu-ragu, sehingga konsumsi daya tertahan di 215,6 Watt dan performa clockspeed rata-ratanya ikut terkunci.

Efek Turbulensi Udara pada Radiator: Saat tiga kipas NF-A12x25 G2 dipaksa berputar ekstrem mendekati 3400 RPM, aliran udara di sela-sela sirip (fins) radiator 360mm justru mengalami turbulensi (udara berputar-putar tak tentu arah). Aliran udara yang terlalu cepat dan kacau ini membuat udara tidak sempat menyerap panas dari bilah radiator secara optimal. Sebaliknya, pada Balance Mode (2864 RPM), aliran udara bergerak secara laminar (searah) dan jauh lebih efisien dalam membuang kalor panas keluar.

Kombinasi antara Balance Mode dengan penambahan aksesori kipas tambahan VRM seharga 350 ribuan terbukti menjadi skenario paling mematikan. Pengujian menunjukkan suhu CPU Package berhasil turun paling drastis ke 91,69°C dengan raihan skor tertinggi di 37.303 poin.

Efek domino ini terjadi karena area VRM (Voltage Regulator Module) dan komponen choke di sekitar soket motherboard ASUS ROG Strix didinginkan secara langsung oleh hembusan angin NL-ACF1 yang terpasang tepat di atas pompa. Ketika suhu kerja komponen VRM turun menjadi lebih adem, efisiensi konversi daya yang dialirkan menuju inti prosesor menjadi jauh lebih bersih dan minim hambatan kelistrikan.

Berkat pasokan daya yang sangat sehat dan stabil dari VRM yang dingin ini, Ryzen 9 7950X dapat dengan leluasa mempertahankan kestabilan performanya di daya tertinggi (228,8 Watt), tanpa perlu mengalami thermal throttling instan di area silikon utamanya.

Pengujian Eco Mode (TDP 105W)

Sebagai tambahan informasi, kami juga sempat iseng melakukan pengujian pada mode efisiensi menggunakan profil Eco Mode TDP 105W (AMD EC). Hasil data yang didapatkan justru sangat solid dan mencengangkan:

  • Rata-rata Konsumsi Daya (Package Power): 143,3 Watt
  • Suhu Rata-rata Maksimal: Hanya 68,14° Celcius!
  • Rata-rata Clockspeed: 4588 MHz

Data ini menjadi bukti otentik bahwa AIO Noctua NL-LC1-36 sebetulnya memiliki kapasitas kapasitas pendinginan (cooling capacity) yang sangat masif. Ryzen 9 7950X pada dasarnya merupakan prosesor “monster” bertangan banyak yang memang didesain untuk selalu bekerja di batas limit 95°C, sehingga cooler terbaik pun dipaksa kerja rodi di limit atasnya.

Namun, jika pendingin air 360mm ini dipasangkan pada prosesor dengan TDP bawaan yang lebih rendah—seperti lini Ryzen 7, Core i7, atau prosesor gaming harian populer lainnya—AIO ini dipastikan akan menjadi perangkat pendingin yang sangat overkill. Suhu komputer dipastikan akan konsisten sangat adem di angka 60-an hingga 70-an derajat Celcius saja, bahkan dalam kondisi beban kerja penuh (full load). Pengguna tidak perlu memaksa kipas bekerja keras hingga bising, cukup berjalan santai di mode senyap untuk menikmati identitas asli Noctua sebagai sang raja kesunyian komputer.

Kesimpulan

Noctua NL-LC1-36 bisa menjadi jawaban bagi para antusias yang mendambakan performa pendinginan kelas atas tanpa drama lampu RGB. Kolaborasi bersama Asetek Emma V2 terbukti sukses menjinakkan prosesor monster sekelas Ryzen 9 7950X, terutama jika dipadukan dengan kipas tambahan VRM (NL-ACF1) yang menjadi kombinasi paling mematikan dalam pengujian.

Kelebihan:

  • Kualitas material, kemasan, dan kelengkapan boks sangat premium khas Noctua (termasuk bonus obeng Torx T20 dan pasta NT-H2).
  • Performa pendinginan masif dan sangat overkill untuk PC harian atau CPU di bawah TDP 170W.
  • Kinerja kipas NF-A12x25 G2 sangat sunyi dan efisien pada mode harian.
  • Jaminan investasi jangka panjang dengan masa garansi penuh selama 6 tahun.

Kekurangan:

  • Kabel bawaan kipas terlalu pendek, membuat manajemen kabel sedikit menantang.
  • Posisi kabel pompa agak terlalu dekat dengan baut pengunci braket.
  • Sakelar profil pompa fisik di dalam bodi sangat merepotkan untuk diakses setelah PC dirakit.
  • Harga, tentunya terhitung mahal

Dengan perkiraan harga menyentuh Rp4,4 juta hingga Rp5 jutaan saat masuk resmi ke Indonesia, AIO ini jelas bukan untuk semua orang. Namun, bagi para loyalis Noctua yang mengejar performa puncak, durabilitas jangka panjang, dan estetika minimalis yang ikonik, NL-LC1-36 bisa menjadi mahakarya yang sangat sepadan dengan harganya.

VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

Indra Setia Hidayat

Saya bisa disebut sebagai tech lover, gamer, a father of 2 son, dan hal terbaik dalam hidup saya bisa jadi saat membangun sebuah Rig. Jauh didalam benak saya, ada sebuah mimpi dan harapan, ketika situs ini memiliki perkembangan yang berarti di Indonesia atau bahkan di dunia. Tapi, jalan masih panjang, dan cerita masih berada di bagian awal. Twitter : @murdockcruz Email : murdockavenger@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.