Harga DRAM Melonjak: Samsung, SK Hynix & Micron Digugat Atas Dugaan Kartel
Kabar buruk bagi para perakit PC dan antusias teknologi yang sedang menunda pembelian komponen. Harapan untuk melihat harga memori (DRAM dan NAND) kembali normal tampaknya harus pupus total. Alih-alih turun, harga memori global diproyeksikan bakal semakin menggila sepanjang sisa tahun ini hingga tahun 2027, dengan estimasi pemulihan paling cepat baru terjadi pada tahun 2028.
Di tengah kondisi pasar yang mencekik konsumen, sebuah kejutan besar datang dari pengadilan California, Amerika Serikat. Tiga raksasa semikonduktor yang menguasai hampir seluruh pasokan memori dunia—Samsung, SK Hynix, dan Micron—resmi digugat oleh kelompok konsumen atas dugaan konspirasi jahat memanfaatkan situasi demi melambungkan harga secara artifisial.
Baca juga: Micron Resmi Suntik Mati RAM & SSD Crucial: Fokus Jual Komponen ke Data Center AI!
Prediksi Kenaikan Harga yang Lebih Brutal
Berdasarkan taksiran terbaru dari mantan eksekutif Samsung China yang kini aktif sebagai konsultan industri memori, Ethan Tan, lonjakan harga yang akan datang bakal jauh lebih agresif dibanding prediksi para investor Barat sebelumnya.
Dalam brifing eksklusif bersama lembaga riset Jefferies Equity Research, pasokan memori di kuartal ketiga tahun ini diproyeksikan bakal mengalami kenaikan harga antara 40% hingga 50% dibandingkan kuartal sebelumnya. Tidak berhenti sampai di situ, pada kuartal keempat, harga diperkirakan kembali merangkak naik sebesar 30% hingga 40%.
Jika dihitung secara akumulatif dalam rentang waktu empat tahun terakhir, harga memori untuk kebutuhan data center bahkan telah meroket hingga 700%. Efek domino dari mahalnya harga cip memori ini sudah mulai dirasakan langsung di pasar konsumen mikro. Raksasa teknologi sekelas Apple, Sony, dan Microsoft bahkan sudah mulai terpaksa menaikkan harga jual perangkat mereka, seperti lini laptop MacBook, tablet iPad, hingga konsol Xbox terbaru akibat tingginya biaya produksi.
Secara teknis, kelangkaan ini diperparah oleh lambatnya lompatan teknologi fabrikasi silikon. Kemajuan node semikonduktor terbaru tercatat hanya mampu mendongkrak kapasitas suplai global sebesar 7% hingga 8% saja tahun ini. Angka tersebut jelas tidak sebanding dengan masifnya permintaan pasar.
Ditambah lagi, trio penguasa memori dunia lebih memilih mengalihkan jalur produksi mereka dari yang awalnya memproduksi DRAM konvensional untuk PC dan smartphone, menjadi fokus memproduksi memori premium berkecepatan tinggi (HBM) untuk kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI Data Center). Sektor AI diakui memberikan margin keuntungan yang jauh lebih menggiurkan bagi para produsen dibandingkan pasar komputer rumahan.
Tuntutan Hukum: Diduga Sengaja Dimanipulasi
Melihat situasi yang tidak wajar ini, sebanyak 17 penggugat di California melayangkan gugatan hukum class action bertajuk Garciaguirre et al. v. Samsung Electronics Co., Ltd. et al. Melalui laporan hukum Law360, para penggugat menuduh bahwa kelangkaan yang terjadi saat ini merupakan skenario yang sengaja dirancang oleh ketiga pabrikan tersebut.
Argumen sentral dari gugatan ini menyatakan bahwa dalam ekosistem pasar yang sehat dan kompetitif, ketika harga komoditas sedang melambung tinggi, seharusnya minimal ada satu produsen yang meningkatkan volume produksi mereka untuk mengambil ceruk pasar. Tindakan tersebut secara otomatis akan memaksa kompetitor lain ikut bereaksi dan menstabilkan harga. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya: Samsung, SK Hynix, dan Micron kompak menahan volume produksi DRAM konvensional meskipun harga pasar terus melonjak.
Jika gugatan hukum ini terus bergulir, ini akan menjadi skandal manipulasi harga (price-fixing) ketiga yang melibatkan nama-nama besar tersebut dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Sebagai catatan sejarah, pada periode kasus tahun 1998 hingga 2002, para produsen ini juga pernah dinyatakan bersalah atas kasus serupa, di mana Samsung harus membayar denda sebesar USD 300 juta dan HBM (sekarang SK Hynix) didenda USD 185 juta.
Jefferies: Memory Outlook
> Memory pricing is expected to rise sharply in the near term—climbing 40%–50% QoQ in 3Q26 and another 30%–40% QoQ in 4Q26.
> Price hikes are likely to continue into 2027, with a projected 40%–45% YoY increase due to zero wafer capacity growth.
— P Equity Research 📰 (@pequityresearch) June 22, 2026
Bagi yang berharap produsen alternatif asal Tiongkok seperti CXMT (ChangXin Memory Technologies) bisa menjadi pahlawan penyelamat harga, tampaknya ekspektasi tersebut harus diredam dulu. Meskipun pengujian benchmark membuktikan bahwa RAM DDR5 buatan CXMT sudah sangat layak dan mumpuni untuk PC konsumen harian, pengaruh mereka di pasar global dalam dua tahun ke depan masih sangat minim.
Penyebab utamanya adalah blokade ketat dari pemerintah Amerika Serikat yang memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar hitam perdagangan. Akibat sanksi ini, CXMT dan produsen domestik Tiongkok lainnya tidak memiliki akses untuk membeli mesin fabrikasi super canggih, seperti litografi EUV (Extreme Ultraviolet). Tanpa mesin tersebut, mustahil bagi mereka untuk melakukan lompatan teknologi ke arsitektur memori masa depan seperti DDR6 atau HBM3E dalam waktu dekat. Harapan paling realistis baru akan terlihat di sektor memori NAND (penyimpanan), yang teknologinya diprediksi baru bisa mengejar kesetaraan global pada tahun 2028.
Bagi para pembuat sistem atau pengguna yang berencana melakukan upgrade kapasitas RAM maupun penyimpanan dalam waktu dekat, situasi ini menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem rakit PC akan tetap berada di fase yang sangat mahal. Membeli komponen lebih awal atau memanfaatkan sisa stok harga lama di pasar lokal mungkin bisa menjadi keputusan paling taktis sebelum badai kenaikan harga berikutnya benar-benar menghantam pasokan ritel secara menyeluruh.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :
