Valve Steam Machine Resmi Meluncur: Harga Selangit, Spek Bikin Kecewa!
Setelah lebih dari tujuh bulan sejak Valve pertama kali mengumumkan kembalinya proyek ambisius Steam Machine, segala bentuk bocoran dan tebakan harga dari para analis akhirnya resmi terbukti salah total. Bukannya ramah kantong, Valve justru mematok PC gaming berbasis SteamOS ini dengan harga yang luar biasa selangit dan cenderung tidak masuk akal bagi sebagian besar gamer.
Sejak awal, kita semua memang sudah menduga bahwa perangkat ini bakal lebih mahal daripada Xbox Series X atau PlayStation 5—meskipun kedua konsol tersebut juga terpantau sempat mengalami kenaikan harga belakangan ini. Namun, kenyataan pahitnya jauh lebih buruk dari perkiraan.
Baca juga: Apple Resmi Naikkan Harga iPad & Mac Akibat Badai Harga RAM SSD
Table of Contents
Harga Selangit, Storage Pelit
Untuk varian base model (paling murah), Steam Machine dibanderol dengan harga $1,049 USD (sekitar 18.7 jutaan). Mirisnya, dengan harga setinggi itu, Valve hanya memberikan kapasitas penyimpanan lokal sebesar 512 GB saja.
Jika kalian ingin kapasitas yang lebih manusiawi di tahun 2026, varian 2 TB dihargai sebesar $1,349 USD (sekitar 24 jutaan). Selisih harga kisaran 6 jutaan antar-varian ini dinilai sangat keterlaluan, karena angka tersebut jauh lebih mahal daripada harga retail sebuah SSD NVMe 2 TB kelas menengah di pasar komponen PC saat ini.
Bagi konsumen di wilayah Eropa, harganya juga tidak kalah menyiksa dompet, yaitu €1,039 untuk versi standar dan €1,359 untuk versi 2 TB.
Valve juga menyediakan opsi bundel resmi bersama Steam Controller dengan rincian harga internasional sebagai berikut:
- Steam Machine 512 GB (Saja): $1,049 USD / 1,039 EUR / 879 GBP / 1,609 AUD
- Bundle 512 GB + Steam Controller: $1,128 USD / 1,108 EUR / 938 GBP / 1,728 AUD
- Steam Machine 2 TB (Saja): $1,349 USD / 1,359 EUR / 1,149 GBP / 2,109 AUD
- Bundle 2 TB + Steam Controller: $1,428 USD / 1,428 EUR / 1,208 GBP / 2,228 AUD
Catatan: Khusus pembeli varian 2 TB (baik satuan maupun bundel) akan mendapatkan bonus kosmetik berupa dua faceplate tambahan berbahan kain merah (red fabric) dan kayu kenari solid (solid walnut).
Sistem Pre-Order Pakai Jalur “Gacha”
Kalian punya uangnya dan mau beli hari ini? Sayangnya tidak semudah itu. Valve menerapkan sistem registrasi antrean yang ditutup pada 25 Juni kemarin. Bukannya siapa cepat dia dapat, Valve malah mengacak (randomize) alamat email pendaftar yang berhak membeli batch pertama ini. Ya, kalian tidak salah baca: membeli konsol ini harus lewat jalur hoki-hokingan alias gacha!
Meskipun sistem acak ini terbukti ampuh membendung serangan kaum tengkulak (scalper) nakal, metode ini dipastikan memicu rasa frustrasi di kalangan fans setia. Syarat pendaftarannya pun ketat: akun Steam kalian harus bersih tanpa riwayat banned, wajib sudah pernah melakukan minimal satu kali transaksi pembelian di Steam sebelum tanggal 27 April tahun ini, dan tiap rumah tangga dibatasi hanya boleh membeli satu unit.
Bagi yang telat mendaftar setelah tenggat waktu, mereka otomatis akan dilempar ke urutan paling buncit di daftar acak tersebut. Perlu dicatat juga, Valve menegaskan tidak akan mengirimkan unit ke Korea Selatan, sementara wilayah Jepang, Taiwan, dan Hong Kong terpaksa harus membeli lewat jalur retail pihak ketiga secara terpisah.
Klaim Performa
Selain perkara harga yang tidak ramah, Valve baru-baru ini kedapatan mengubah klaim performa di halaman resmi produk mereka tepat pada tanggal 25 Juni kemarin. Langkah senyap ini diduga kuat sengaja diambil demi menghindari tuntutan hukum (litigation) atas iklan palsu.
- Dulu: Halaman produk dengan percaya diri menulis “4K gaming at 60 FPS with FSR.”
- Sekarang: Kalimatnya diperhalus menjadi “Up to 4K gaming with FSR 4.1.”
Tulisan “60 FPS” resmi dihapus total dan diganti dengan kata sihir “up to” (hingga). Berdasarkan berbagai ulasan performa independen, Steam Machine terbukti megap-megap dan kesusahan untuk menyentuh angka 60 FPS pada resolusi murni 1080p di game-game berat tertentu jika dipaksa menggunakan grafis rata kanan (Ultra).
Kemampuan 4K yang digembar-gemborkan aslinya hanyalah hasil manipulasi upscaling dari resolusi 1080p menggunakan fitur FSR 4 mode Performance. Banyak fans akhirnya menyamakan taktik marketing Valve ini dengan logo “8K” milik Sony di dus PS5 zaman dulu.
Meskipun produk fisiknya dinilai terlalu mahal dan niche, proyek Steam Machine ini membawa dampak luar biasa bagi perkembangan PC gaming berbasis Linux secara keseluruhan.
Insinyur Valve, Pierre-Loup Griffais, mengonfirmasi bahwa kerja keras mereka bersama AMD untuk mengaktifkan dukungan HDMI 2.1 dengan FRL (Fixed Rate Link) di sistem operasi terbuka (Linux/SteamOS) telah selesai dan berjalan sempurna. Fitur krusial seperti Variable Refresh Rate (VRR) di layar FreeSync maupun HDMI Forum VRR sudah aktif langsung di Steam Machine.
Ke depannya, pembaruan ini juga akan diimplementasikan ke Steam Deck, yang bakal membuka jalan bagi dukungan performa layar ekstrem hingga 4K 240Hz menggunakan DSC lewat kabel HDMI. Pencapaian ini tergolong sejarah besar, mengingat implementasi HDMI 2.1 di Linux sebelumnya dianggap mustahil akibat ketatnya batasan lisensi komersial.
Di atas kertas, Steam Machine edisi 2026 ini tampak seperti produk eksperimen mahal yang kehilangan arah. Dengan harga tembus belasan hingga puluhan juta rupiah, performa yang ditawarkan nyatanya masih kalah konsisten dibanding konsol rumahan harian seperti PS5 atau Xbox Series X yang harganya jauh lebih murah. Mesin ini tampaknya hanya ditujukan untuk para kolektor berkantong tebal atau antusias Linux garis keras.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :


