>

Wacana Pemerintah Blokir Roblox: Solusi atau Pelarian?

Wacana Pemerintah Blokir Roblox: Solusi atau Pelarian?

Wacana pemerintah Indonesia untuk memblokir gim daring Roblox kembali membangkitkan debat publik. Alasan utamanya: konten kekerasan, perilaku tak senonoh, dan potensi kecanduan pada anak-anak. Di satu sisi, niat pemerintah untuk melindungi generasi muda patut diapresiasi. Namun di sisi lain, langkah pemblokiran seperti ini tampak seperti solusi instan yang menutupi akar masalah sebenarnya: kegagapan kita menghadapi era digital.

Baca juga: Trump Umumkan Tarif 100% untuk Chip Impor, Harga Laptop & PC Terancam Naik

Roblox bukan nama baru dalam industri gim. Platform ini sudah hadir sejak 2006 dan menjadi rumah bagi jutaan pemain yang bukan hanya bermain, tetapi juga menciptakan permainan sendiri lewat Roblox Studio. Untuk sebagian anak, ini bukan sekadar hiburan, tapi juga ruang eksplorasi kreativitas, belajar bahasa asing, bahkan sumber pendapatan dari karya yang mereka buat. Bukan hal yang aneh jika banyak orang tua—termasuk figur publik—melihat potensi positif dari Roblox.

Namun, kita tidak bisa menutup mata. Banyak laporan menyebutkan bahwa Roblox memang mengandung konten yang tidak layak dikonsumsi anak-anak, mulai dari kekerasan ringan hingga eksplisit, percakapan vulgar, bahkan tindakan asusila yang disisipkan oleh pengguna nakal. Studi dari Pew Research dan investigasi oleh lembaga seperti Revealing Reality menunjukkan bahwa verifikasi usia Roblox masih lemah, sehingga anak-anak bisa saja terekspos pada konten yang berbahaya.

Solusi Terbaik Blokir Permanen?

Jika kita melihat pola yang berulang, setiap kali ada keresahan soal gim daring, langkah pemblokiran selalu menjadi opsi yang cepat terlintas. PUBG, Free Fire, hingga GTA pernah mengalami tekanan serupa. Sayangnya, langkah ini hanya menunda masalah, bukan menyelesaikannya.

Pemerintah seharusnya tidak hanya melihat gim sebagai “produk budaya asing yang merusak”, tapi juga sebagai cerminan dari perubahan zaman. Anak-anak kini tumbuh di era digital. Dunia mereka tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik. Mereka belajar, bersosialisasi, dan berekspresi lewat medium yang berbeda dari generasi sebelumnya. Merespons hal ini dengan cara lama—yakni larangan dan pemblokiran—adalah bentuk kegagalan dalam beradaptasi.

Kunci dari persoalan ini bukan di tombol blokir, tetapi di pendampingan aktif dan peningkatan literasi digital, baik untuk anak maupun orang tua. Banyak orang tua yang bahkan tidak tahu anaknya bermain apa, bagaimana cara kerja gim tersebut, atau fitur keamanan apa yang tersedia. Padahal Roblox sendiri telah menyediakan pengaturan keamanan, pembatasan waktu, pemantauan akun, dan filter percakapan.

Mengasuh anak di era digital menuntut keterlibatan lebih. Bukan hanya soal mengatur waktu layar, tapi juga memahami dunia digital tempat mereka berada. Anak-anak tidak akan berhenti main hanya karena satu gim diblokir. Mereka akan mencari alternatif, mungkin yang lebih gelap dan tidak terpantau. Larangan tanpa edukasi hanya mendorong mereka bermain di bawah radar.

Selain orang tua, regulasi dari pemerintah tetap dibutuhkan. Tapi bukan dalam bentuk pemblokiran semata. Pemerintah bisa mendesak platform seperti Roblox agar menerapkan verifikasi usia yang lebih ketat, meninjau ulang konten populer, dan memprioritaskan fitur moderasi berbasis AI atau manusia. Selain itu, kampanye literasi digital yang masif dan menyeluruh hingga ke daerah pinggiran juga sangat mendesak dilakukan. Karena tantangan terbesar kita bukan Roblox, tapi ketidaksiapan menghadapi dunia digital yang kompleks.

Kalau pemerintah serius ingin melindungi anak, maka pendekatannya harus komprehensif. Pemblokiran hanyalah jalan pintas yang bisa jadi memuaskan secara politis, tapi tidak menyentuh akar masalah. Dunia digital tidak bisa dihindari. Ia harus dihadapi, dikelola, dan dipahami.

Saat ini, pemerintah, orang tua, dan masyarakat luas punya pilihan. Mau terus menyalahkan platform, atau mulai membekali generasi muda dengan pemahaman, pengawasan, dan pendampingan. Daripada terus berlari dari tantangan zaman, bukankah lebih baik kita berlari mengejarnya bersama anak-anak kita—dengan bekal yang cukup?

Comments

VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

Indra Setia Hidayat

Saya bisa disebut sebagai tech lover, gamer, a father of 2 son, dan hal terbaik dalam hidup saya bisa jadi saat membangun sebuah Rig. Jauh didalam benak saya, ada sebuah mimpi dan harapan, ketika situs ini memiliki perkembangan yang berarti di Indonesia atau bahkan di dunia. Tapi, jalan masih panjang, dan cerita masih berada di bagian awal. Twitter : @murdockcruz Email : murdockavenger@gmail.com