Tema Kekerasan Masih Jadi Masalah eSport Untuk Bisa Tampil Di Olimpiade
Dunia eSport hari ini setidaknya memiliki banyak kemajuan, termasuk potensi untuk bisa masuk sebagai salah satu cabang olahraga resmi di Olimpiade. Hal tersebut dibuktikan dalam perkenalan demonstrasi beberapa game pada festival ASIAN Games 2018 di Jakarta. Namun, ternyata masih ada beberapa kendala yang masih diragukan oleh banyak pihak, salah satunya adalah tema kekerasan.
Hal tersebut diungkap jelas oleh bos Olimpiade itu sendiri, Thomas Bach sebagaimana apa yang dikutip oleh Apnews. Ia mengatakan secara jelas bahwa Olimpiade tidak akan mempertimbangkan “sebuah permainan yang mempromosikan kekerasan atau diskriminasi,” tanpa memberikan contoh spesifik dari esport populer yang melakukannya. Tahun lalu dia membuat kritik serupa ketika ditanya apakah esports akan bergabung dengan program Olimpiade.
Baca juga : 3 Pilihan Gaming Gear Terbaru Razer, Desain Spesial Untuk Gamer eSport
Namun, itu bisa berkata lain, ketika suksesnya festival Asian Games 2018 juga menghadirkan demonstrasi arena eSport. Ada enam esports dalam program demonstrasi tersebut, yakni Arena of Valor, Clash Royale, Hearthstone, League of Legends, Pro Evolution Soccer 2018 dan StarCraft 2. Kompetisi tersebut ditutup pada tanggal 1 september beberapa hari yang lalu, dimana Jepang memenangkan emas di PES 2018 . China memenangkan emas dalam dua pertandingan dan tiga medali, sisanya merupakan sebagian besar dari tujuh negara bersaing.

Tapi Bach masih diam tidak bergeming, dan tidak (atau belum) terkesan mengenai hal tersebut. “Game ini masih disebut killer. Mereka, dari sudut pandang kami, bertentangan dengan nilai-nilai Olimpiade dan karena itu tidak dapat diterima, ”katanya. Padahal, menurut seorang wartawan Associated Press mencatat bahwa Bach juga ternyata pernah “bergelut” di bidang olahraga dengan tema kekerasan, ketika saat itu ia berhasil memenangkan medali emas di Olimpiade 1976 di bidang fencing, sebuah olahraga di mana para pesaing saling bertanding dengan pedang. Namun Bach masih mencela perbandingan apa pun dengan itu sebagai persaingan yang sengit.
“Tentu saja setiap olahraga tempur memiliki asal-usul dalam pertarungan nyata di antara orang-orang,” katanya. “Tapi olahraga adalah ekspresi yang beradab tentang ini. Jika Anda memiliki egames di mana itu tentang membunuh seseorang, ini tidak dapat diselaraskan dengan nilai-nilai Olimpiade kami. “
Tahun lalu juga Bach membuat kritik pedas yang sama terhadap video game, yang secara keseluruhan ia masih menyatakan bahwa inklusi esports di Olimpiade masih mustahil. Belakangan, IOC mengeluarkan pernyataan yang mencatat pertumbuhan dan daya Tarik dunia ini, tetapi mengatakan diperlukan federasi global di seluruh dunia agar IOC dapat bekerja.
Dan ini mungkin hanya masalah waktu dan tantangan bagi dunia eSport untuk bisa diterima sepenuhnya. Bahkan untuk mewujudkan semua hal tersebut, bulan juli kemarin IOC mengadakan sebuah forum dengan Asosiasi Global Federasi Olahraga Internasional tentang masalah esports, dengan Mike Morhaime dari Blizzard Entertainment, chief executive Riot Games Nicolo Laurent, dan pendiri Electronic Sports League Ralf Reichert. IOC dan GAISF bahkan membentuk kelompok penghubung untuk melanjutkan diskusi tentang esports di Olimpiade, dan Bach juga akan melakukan diskusi lebih lanjut mengenai esports dalam agenda pertemuan KTT Olimpiade berikutnya pada bulan Desember.
Baca Juga :
- 3 Pilihan Gaming Gear Terbaru Razer, Desain Spesial Untuk Gamer eSport
- 5 Pilihan Game Terbaru Bulan September 2018 (Top List)
- Kompetisi Gaming eSport Di Amerika Berubah Jadi Mimpi Buruk, 3 Nyawa Melayang
- Dunia Crypto Mining Ditinggalkan, Fokus Utama Nvidia Kini eSport
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :
