Lonjakan Harga Memori Mulai Hantam Pasar Smartphone Global
Industri smartphone global kembali menghadapi tekanan baru. Setelah sempat pulih sejak 2023, pasar panel smartphone kini diperkirakan akan kembali mengalami kontraksi pada 2026. Penyebab utamanya bukan sekadar melemahnya permintaan konsumen, tetapi juga lonjakan harga komponen penting—terutama memori.
Dalam laporan riset terbaru dari TrendForce, pengiriman panel smartphone global pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 2,14 miliar unit. Angka tersebut turun sekitar 7,3% dibandingkan 2025, ketika pasar masih mencatat sekitar 2,31 miliar unit pengiriman.
Penurunan ini sekaligus menandai berakhirnya siklus pertumbuhan yang sempat dimulai pada 2023, ketika industri smartphone mulai pulih setelah periode stagnasi panjang.
Baca juga: Alasan Mengapa Kamera HP Realme Jadi Sorotan di Tahun 2026
Table of Contents
Ketika Memori Menjadi Titik Tekanan Baru
Jika beberapa tahun lalu masalah utama industri smartphone adalah permintaan yang lemah, kini tekanan datang dari sisi yang berbeda: biaya komponen yang meningkat.
Memori DRAM dan NAND menjadi salah satu komponen paling mahal dalam sebuah smartphone modern. Ketika harga memori melonjak—sebagian besar karena kapasitas produksi terserap oleh pasar AI dan data center—produsen smartphone harus menyesuaikan strategi mereka.
Efeknya mulai terasa di rantai pasokan. Produsen perangkat kini lebih berhati-hati dalam memesan komponen, termasuk panel layar. Ketika proyeksi penjualan smartphone baru tidak terlalu optimistis, maka volume pembelian panel otomatis ikut ditekan.
Sebelumnya, pasar smartphone bekas atau refurbished sempat menjadi salah satu penyangga permintaan panel dan komponen. Namun situasinya kini mulai berubah.
Lonjakan harga memori dan keterbatasan pasokan membuat produksi perangkat baru menjadi lebih mahal. Di sisi lain, pasar sekunder juga mulai menghadapi tekanan karena ketersediaan unit semakin terbatas.
Sementara itu, permintaan dari sektor perbaikan perangkat masih relatif stabil. Banyak pengguna kini memilih memperbaiki smartphone lama dibanding langsung membeli perangkat baru.
Namun menurut TrendForce, stabilnya pasar reparasi belum cukup kuat untuk menutup penurunan permintaan perangkat baru secara global.
AMOLED Terus Naik, LCD Mulai Tertekan
Di tengah perlambatan pasar, ada satu tren yang masih terlihat cukup jelas: pergeseran teknologi layar. Panel AMOLED terus mendapatkan momentum, terutama di segmen smartphone kelas menengah. Teknologi produksi yang semakin matang membuat biaya AMOLED menjadi lebih kompetitif dibanding beberapa tahun lalu.
TrendForce memperkirakan panel AMOLED akan menyumbang sekitar 43,2% dari total pengiriman panel smartphone pada 2026, naik dari 41,2% pada 2025.
Sebaliknya, panel LTPS LCD mulai kehilangan pijakan di pasar. Pangsa pasarnya diperkirakan turun cukup tajam dari sekitar 4,4% menjadi hanya 2,5%.
Sementara itu, panel a-Si LCD yang umumnya digunakan pada smartphone entry-level diperkirakan masih cukup stabil dengan pangsa sekitar 54,4%.
Harga Smartphone Bisa Ikut Naik
Ketika biaya komponen meningkat, produsen smartphone biasanya menghadapi dua pilihan yang sama-sama sulit. Mereka bisa menyerap sebagian kenaikan biaya untuk menjaga harga perangkat tetap kompetitif. Atau, mereka meneruskan kenaikan tersebut ke konsumen.
Dalam praktiknya, kemungkinan besar keduanya akan terjadi bersamaan. Produsen smartphone diperkirakan akan memperketat manajemen biaya di seluruh rantai pasokan. Namun di saat yang sama, kenaikan harga smartphone secara bertahap juga sulit dihindari.
Tekanan ini berpotensi dirasakan langsung oleh produsen panel layar, karena brand smartphone akan menekan harga komponen agar margin produk tetap terjaga.
Segmen yang paling rentan terhadap tekanan harga adalah panel LCD untuk smartphone kelas menengah dan bawah.
Permintaan yang melemah serta penyesuaian inventori di rantai pasokan berpotensi membuat harga panel LCD turun lebih dalam. Bahkan panel AMOLED—meskipun memiliki keunggulan teknologi—tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan harga.
Persaingan antar produsen panel untuk mendapatkan kontrak produksi smartphone diperkirakan akan semakin agresif dalam beberapa tahun ke depan.
Memori Jadi Variabel Paling Berbahaya
Jika melihat gambaran yang lebih luas, kenaikan harga memori kini menjadi salah satu faktor paling tidak pasti bagi industri smartphone.
Bukan hanya mempengaruhi biaya produksi perangkat, tetapi juga memengaruhi strategi produk dari berbagai brand. Mulai dari kapasitas RAM yang ditawarkan, konfigurasi penyimpanan, hingga positioning harga perangkat.
Pada akhirnya, respons konsumen akan menjadi faktor penentu. Apakah mereka bersedia membayar lebih mahal untuk smartphone baru, atau justru memilih menggunakan perangkat lama lebih lama dari biasanya.
Jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan arah industri smartphone dalam beberapa tahun ke depan.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :


