Jensen Huang: Narasi “Kiamat AI” Tidak Membantu Siapa Pun
Sejak ChatGPT dilepas ke publik, perdebatan soal kecerdasan buatan tidak pernah sepi. Di satu sisi, AI dipuja sebagai mesin produktivitas masa depan. Di sisi lain, ia dicurigai sebagai ancaman—mulai dari pengganti jutaan pekerjaan hingga skenario akhir dunia ala fiksi ilmiah. Jensen Huang tampaknya sudah lelah dengan narasi yang terakhir.
CEO Nvidia itu secara terbuka mengkritik apa yang ia sebut sebagai “doomer narrative”—narasi pesimistis yang menggambarkan AI sebagai ancaman eksistensial bagi manusia. Dalam wawancaranya di podcast No Priors, Huang menilai sudut pandang tersebut bukan hanya berlebihan, tapi juga kontraproduktif.
Menurut Huang, tahun 2025 adalah momen ketika “perang narasi” soal AI benar-benar terasa: antara mereka yang percaya AI akan membawa manfaat besar bagi masyarakat, dan mereka yang yakin teknologi ini justru akan merusak—atau bahkan menghancurkan—peradaban.
Ia memang mengakui bahwa menyederhanakan masalah menjadi hitam-putih juga tidak tepat. Namun, Huang menegaskan bahwa sebagian suara pesimistis justru sudah menimbulkan dampak negatif nyata.
“Kita sudah melakukan banyak kerusakan ketika orang-orang yang sangat dihormati melukiskan narasi kiamat, narasi akhir dunia, narasi fiksi ilmiah,” ujar Huang.
“Itu tidak membantu siapa pun—bukan masyarakat, bukan industri, bukan pemerintah.”
Pernyataan ini tentu bukan hal mengejutkan, mengingat Nvidia adalah tulang punggung industri AI global. GPU mereka menggerakkan hampir semua model AI besar saat ini. Tapi justru di situlah konteksnya menjadi menarik: kritik ini datang dari pihak yang paling diuntungkan oleh ledakan AI.
Baca juga: Tantangan Infrastruktur AI: Siapkah Kita Menghadapi Era AI Agentik?
Sindiran Halus ke Anthropic?
Meski Huang tidak menyebut nama secara langsung, arah kritiknya cukup jelas. Tahun lalu, CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan bahwa AI bisa menghapus hingga 50% pekerjaan white-collar entry-level dalam lima tahun ke depan, dengan potensi lonjakan pengangguran sampai 20%.
Saat itu, Huang merespons dengan cukup keras, menyatakan bahwa ia “hampir tidak setuju dengan semua yang dikatakan” Amodei. Dalam podcast terbaru ini, nada serupa kembali terdengar.
Huang bahkan menegaskan bahwa tidak seharusnya ada perusahaan yang mendorong pemerintah untuk memperketat regulasi AI demi kepentingan mereka sendiri.
“Niat mereka jelas tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan masyarakat,” katanya.
“Mereka CEO, mereka perusahaan, dan tentu saja mereka sedang memperjuangkan posisi mereka sendiri.”
Ketegangan antara Nvidia dan Anthropic juga terlihat dalam perdebatan soal AI Diffusion Rules—aturan pembatasan ekspor teknologi AI canggih ke negara seperti China. Anthropic mendorong pengawasan ketat, sementara Nvidia justru menilai pendekatan tersebut berlebihan.
Bahkan, Nvidia sempat menyindir laporan soal penyelundupan chip ke China—mulai dari chip yang disembunyikan di perut palsu hingga dikirim bersama lobster hidup—dengan menyatakan bahwa chip mereka “tidak pernah diselundupkan dengan cara seperti itu.”
Ironisnya, Huang percaya bahwa narasi negatif soal AI justru bisa mewujudkan ketakutan itu sendiri.
Menurutnya, jika sebagian besar pesan publik hanya berisi ketakutan dan pesimisme, masyarakat akan enggan berinvestasi pada AI—padahal investasi inilah yang dibutuhkan untuk membuat AI lebih aman, lebih terkendali, dan lebih bermanfaat.
“Kalau 90% pesan yang beredar adalah soal kiamat dan pesimisme, kita justru menakut-nakuti orang untuk berinvestasi pada AI yang lebih aman dan lebih berguna bagi masyarakat,” jelas Huang.
Baca juga: Dell Akui Konsumen Tidak Tertarik Beli PC Hanya Karena Ada Chip AI
Kritik Publik Tak Akan Hilang Begitu Saja
Namun, ini jelas bukan pertama kalinya para eksekutif besar mengeluhkan sentimen publik terhadap AI. CEO Microsoft Satya Nadella sebelumnya menyindir diskusi AI yang terlalu fokus pada “slop”. Mustafa Suleyman, kepala divisi AI Microsoft, bahkan menyebut kritik publik terhadap AI sebagai sesuatu yang “mind-blowing”.
Masalahnya, kritik itu tidak muncul dari ruang hampa. Saat ini, diperkirakan lebih dari 20% konten di feed YouTube bisa dikategorikan sebagai AI slop. Di saat yang sama, jumlah pekerja yang terdampak otomatisasi dan AI terus bertambah.
Selama dampak nyata itu masih dirasakan oleh masyarakat, narasi pesimistis kemungkinan tidak akan hilang—tidak peduli seberapa keras para CEO teknologi menolaknya.
Dan mungkin di situlah inti perdebatan ini: bukan soal apakah AI akan datang, tapi siapa yang akan paling menanggung konsekuensinya.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :


