Nintendo Switch 2 Kena Imbas Gara-Gara Kenaikan Harga RAM
Nintendo kini menghadapi masalah yang juga dialami hampir seluruh industri teknologi: lonjakan harga memori. Kenaikan drastis harga DRAM dan NAND membuat biaya produksi Nintendo Switch 2 ikut membengkak, memicu kekhawatiran investor dan menyeret turun harga saham perusahaan asal Jepang tersebut.
Dalam satu bulan terakhir, saham Nintendo dilaporkan anjlok cukup tajam hingga memangkas nilai pasar perusahaan sekitar USD 14 miliar. Salah satu pemicunya adalah krisis pasokan memori global yang dipicu oleh ledakan permintaan dari industri AI dan data center.
Baca juga: Clair Obscur Borong 9 Penghargaan di The Game Awards 2025, Termasuk Game of the Year
Beban Produksi Switch 2 Membengkak
Menurut laporan Bloomberg, Nintendo kini harus membayar 41% lebih mahal untuk modul 12GB LPDDR5X yang digunakan di Switch 2 dibandingkan tiga bulan lalu. Kenaikan ini jelas bukan angka kecil, mengingat memori merupakan salah satu komponen penting dalam perangkat konsol modern.
Tak hanya DRAM, harga NAND flash 256GB yang digunakan di Switch 2 juga ikut naik sekitar 8%. Dampaknya sudah mulai terasa di sisi konsumen, terutama lewat harga microSD Express, media ekspansi storage resmi Switch 2 yang kini dijual dengan banderol jauh lebih tinggi.
“Ini pada akhirnya adalah biaya yang dialihkan Nintendo ke gamer,” ujar Pelham Smithers dari Pelham Smithers Associates.
Nintendo memang tidak pernah mengungkap secara detail berapa margin keuntungan per unit Switch 2. Namun berbagai laporan industri dan retailer menyebutkan bahwa margin hardware Switch 2 di awal peluncuran sangat tipis, bahkan nyaris nol.
Strategi ini bukan hal baru bagi Nintendo—fokus utamanya adalah membangun basis pengguna besar, lalu meraup keuntungan dari penjualan game dan layanan. Namun, dengan lonjakan biaya produksi sebesar ini, ruang untuk “menyerap kerugian” semakin sempit.
Jika harga komponen terus naik, kenaikan harga Switch 2 di level konsumen bisa jadi tak terhindarkan.
Meski tekanan biaya meningkat, Nintendo masih cukup optimistis. Pada awal November lalu, perusahaan bahkan menaikkan proyeksi penjualan Switch 2 hingga Maret 2026 dari 15 juta unit menjadi 19 juta unit.
Namun, optimisme tersebut bisa diuji jika Nintendo benar-benar harus menaikkan harga konsolnya di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Krisis Memori Global Mulai Terasa di Mana-mana
Kondisi pasar memori saat ini terbilang ekstrem. Harga DRAM melonjak ke level yang dianggap “tidak masuk akal”—bahkan beberapa toko sempat menghentikan listing RAM karena harga yang terlalu fluktuatif.
Ironisnya, beberapa kit RAM kini dijual lebih mahal dibanding konsol game atau GPU kelas atas. Jika tren ini berlanjut, bukan hanya konsol yang terdampak, tapi juga laptop, SSD, dan kartu grafis.
Bagi banyak pengamat, situasi ini mulai mengingatkan pada masa-masa sulit era pandemi: pasokan terbatas, harga melonjak, dan konsumen berada di posisi paling rentan.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

