>

Studi Baru: Game Kekerasan Justru Bisa Redakan Stres?

Studi Baru: Game Kekerasan Justru Bisa Redakan Stres?

Video game kekerasan selama ini sering dijadikan kambing hitam berbagai masalah sosial, mulai dari agresi remaja hingga penurunan empati. Tapi studi terbaru kembali mematahkan anggapan lama itu — bahkan menunjukkan bahwa game penuh kekerasan sekalipun bisa membantu meredakan stres, layaknya terapi singkat.

Penelitian yang dipimpin oleh Gary Wagener ini menggunakan game A Plague Tale: Requiem, sebuah game aksi-petualangan bertema kelam dan penuh kekerasan, untuk menguji pengaruh game terhadap tingkat stres. Uniknya, hasilnya tak hanya menantang asumsi awam, tapi juga membuka diskusi tentang bagaimana kita memahami reaksi tubuh dan pikiran terhadap video game.

Baca juga: AMD Kuasai Amazon, Intel Terus Menghilang

Penelitian melibatkan 82 peserta berusia 18–40 tahun, mayoritas memiliki pengalaman bermain game. Sebelum bermain, peserta menjalani Socially Evaluated Cold Pressor Test (SECPT) — teknik penyiksaan ringan yang sahih secara ilmiah — di mana mereka harus mencelupkan tangan ke air es sambil diinterogasi, untuk menciptakan stres psikologis dan fisik.

Setelah itu, peserta dibagi dua kelompok:

  • Kelompok pertama bermain dua bagian penuh aksi dan kekerasan dari A Plague Tale: Requiem.

  • Kelompok kedua memainkan dua bagian yang tenang dan non-kekerasan dari game yang sama.

Hasilnya? Kedua kelompok menunjukkan penurunan stres secara fisiologis, baik melalui data ECG, sampel air liur, maupun hasil observasi. Namun, mereka yang bermain bagian kekerasan mengaku merasa lebih tegang, meski tubuh mereka tidak menunjukkan hal yang sama.

Studi Baru: Game Kekerasan Justru Bisa Redakan Stres?

Peneliti menyebut hasil ini sebagai bentuk “dissosiasi antara persepsi diri dan respons tubuh yang sebenarnya.” Artinya, kita sering kali salah menilai tingkat stres kita sendiri — terutama saat berada di situasi intens seperti bermain game penuh aksi.

Kemungkinan lain: adegan kekerasan terasa lebih sulit dan memacu adrenalin, sehingga membuat pemain merasa lebih stres, meski tubuh mereka justru sedang mengalami relaksasi pasca stres berat sebelumnya.

Temuan ini menjadi tambahan penting di tengah debat panjang soal efek video game pada psikologi manusia. Tentu, studi ini hanya menggunakan satu game, dan tidak bisa digeneralisasi ke semua genre. Tapi fakta bahwa game seperti A Plague Tale: Requiem — yang penuh ketegangan dan kegelapan — bisa membantu meredakan stres menunjukkan bahwa game bukan musuh, melainkan alat. Seperti halnya film atau musik, pengaruh game tergantung pada konteks, durasi, dan individu yang memainkannya.

Penulis studi bahkan menyarankan riset lanjutan menggunakan game seperti DOOM Eternal — yang terkenal brutal dan cepat — untuk menguji batas efektivitas terapi stres lewat game kekerasan.

Comments

VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

Indra Setia Hidayat

Saya bisa disebut sebagai tech lover, gamer, a father of 2 son, dan hal terbaik dalam hidup saya bisa jadi saat membangun sebuah Rig. Jauh didalam benak saya, ada sebuah mimpi dan harapan, ketika situs ini memiliki perkembangan yang berarti di Indonesia atau bahkan di dunia. Tapi, jalan masih panjang, dan cerita masih berada di bagian awal. Twitter : @murdockcruz Email : murdockavenger@gmail.com