Tiongkok Siapkan Robot Humanoid untuk Militer: Terminator Bukan Lagi Fiksi!
Dahulu, melihat robot humanoid berjalan tertatih-tatih lalu jatuh terlentang sering kali menjadi bahan lelucon di media sosial. Gagasan mengenai kedatangan robot pembunuh ala film Terminator di medan perang terasa sangat jauh dari kenyataan.
Namun, peta teknologi berubah drastis. Saat ini, mesin-mesin tersebut sudah mampu berlari melebihi kecepatan manusia hingga melakukan aksi parkour. Pemerintah Tiongkok kini secara terang-terangan mulai merencanakan pengintegrasian robot humanoid sebagai “prajurit tempur” di garis depan.
Baca juga: CXMT Mulai Produksi Massal LPDDR6 untuk Xiaomi 18 Fold!
Dominasi Industri & Instruksi Militer
Perkembangan pesat ini didorong oleh dominasi penuh Tiongkok di sektor manufaktur robotika global. Sepanjang tahun 2025, produsen asal Tiongkok menguasai sekitar 95% dari total pengiriman robot humanoid di seluruh dunia.
Kondisi ini memberikan akses melimpah bagi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (People’s Liberation Army / PLA) untuk mengeksplorasi potensi militer dari teknologi tersebut.
Unitree New Robot Preview: “Superman” Breaking the Limits of Humanity🥳
Standing high jump 2 m, top speed 12.66 m/s (0.85 m leg length)
Surpassing the standing high jump and running speed records of all humans around the world
This new machine has only been in development for a… pic.twitter.com/12i80ITU6p— Unitree (@UnitreeRobotics) August 17, 2026
Pada Agustus lalu, Tiongkok menggelar World Humanoid Robot Games. Di bulan yang sama, produsen Unitree mengklaim robot “Superman” buatan mereka mampu berlari lebih cepat dari rekor manusia Usain Bolt.
Selang dua hari setelah ajang Robot Games berakhir, koran resmi militer PLA Daily menyerukan kepada para peneliti untuk mempercepat pemindahan teknologi robotika dari laboratorium langsung ke area pelatihan militer.
Laporan Reuters yang meninjau lebih dari 100 dokumen pengadaan militer, paten, dan studi akademis mengonfirmasi bahwa Tiongkok sedang menggenjot riset skenario penerjunan robot saat perang meletus.
Skenario Pertempuran
Meskipun konsep “squad Terminator” yang berjalan beriringan di area terbuka masih terhalang kendala teknis, militer Tiongkok memiliki skenario penggunaan yang jauh lebih pragmatis.
Satu studi akademis militer menggambarkan skenario pertempuran jarak dekat (Close Quarters Combat / CQC).
- Pembersihan Area Bangunan: Enam robot tempur—kombinasi antara robot humanoid, anjing robot (robot dog), dan kendaraan tanpa awak—dibagi ke dalam dua tim serbu. Bersama pasukan darat, tim robotik ini bertugas menyisir gedung yang dikuasai musuh, lantai demi lantai dan ruang demi ruang.
- Tugas Spesifik: BUMN pertahanan Tiongkok, Norinco, mengembangkan robot humanoid bernama Fuxi yang dirancang khusus untuk tugas patroli, pengawasan (reconnaissance) segala cuaca, operasi di dalam terowongan, hingga penyisiran kapal.
Kendala Teknis & Dilema Etika
Meski riset berjalan masif, para peneliti mengakui bahwa penerjunan robot tempur humanoid secara penuh masih menghadapi tembok besar sebelum benar-benar siap diterjunkan ke unit operasional PLA.
Pertama, Robot humanoid membutuhkan konsumsi energi yang sangat besar, membatasi durasi operasinya di lapangan. Selain itu, desain paling canggih sekalipun masih berisiko jatuh saat melintasi medan yang sangat kasar atau berbatu.
Masalah krusial terletak pada kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam membedakan prajurit musuh dengan warga sipil, atau mengenali tanda-tanda musuh yang menyerah.
Meskipun Kementerian Pertahanan Tiongkok sempat menyatakan pada Maret lalu bahwa senjata berbasis AI harus tetap berada di bawah kendali manusia (human-in-the-loop), skeptisisme global tetap tinggi. Para peneliti militer memperingatkan bahwa begitu hambatan teknis dan efisiensi biaya berhasil teratasi, robot humanoid dipastikan akan “membanjiri medan perang” masa depan.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :