Ray Tracing di 2026: Visual Mewah, Tapi Kenapa Malah Sering Dimatikan?
Kalau kalian berharap semua game AAA tahun ini bakal punya pantulan cahaya yang realistis, siap-siap kecewa. Riset terbaru menunjukkan kalau dari 21 game paling populer di 2025, cuma 5 game yang benar-benar pakai akselerasi Ray Tracing berbasis hardware secara maksimal.
Baca juga: Update Harga RAM 2026: Modul 32GB Tembus 7 Jutaan Lebih
Banyak developer sekarang pakai trik “jalan tengah”. Mereka cuma aktifin Ray Tracing di area yang nggak butuh aksi cepat, seperti:
- Assassin’s Creed Shadows: Cuma wajib di hideout.
- Armored Core VI: Cuma ada di dalam garasi.
- Call of Duty: Pakai Path Tracing tapi cuma di lobi kustomisasi.
Strategi ini dipakai karena developer malas melakukan baking cahaya manual untuk ribuan kombinasi kosmetik. Tapi di dalam gameplay utama? Mereka mematikannya demi menjaga stabilitas performa pemain.
Gamer Lebih Suka Mematikan Ray Tracing?
Jujur saja, bagi kebanyakan gamer, Ray Tracing itu seringkali terasa seperti “bayar mahal buat dapet pusing.” Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut terjadi.
Pertama, meski sudah ada DLSS 4.5 atau FSR 4, menyalakan RT tetap memotong frame rate secara signifikan. Bagi gamer kompetitif atau mereka yang mengejar fluidity 144Hz, mengorbankan 50% FPS cuma buat liat bayangan yang lebih halus itu nggak sebanding.
Ray Tracing butuh proses denoising agar gambar tidak bintik-bintik. Masalahnya, proses ini sering bikin kualitas gambar jadi terlihat lembut (blur) atau meninggalkan jejak bayangan (ghosting) saat objek bergerak cepat. Alhasil, detail tekstur malah jadi kurang tajam dibanding pakai pencahayaan tradisional (rasterized).
Pernah nggak kalian masuk ke ruangan di dalam game tapi lantainya licin kayak baru dipel satu kelurahan? Penggunaan RT sering bikin permukaan benda terlalu reflektif dan “basah” yang bagi sebagian kalangan justru merusak estetika dan art style asli dari game tersebut.
Dan sekarang, dengan krisis memori yang bikin harga kartu grafis makin mahal, kebanyakan gamer masih tertahan di GPU kelas menengah yang kalau dipaksa jalanin RT malah bikin PC bunyi kayak mesin pesawat.
Harapan tetap ada pada Unreal Engine 5 lewat teknologi Lumen. Developer sekarang lebih condong pakai Lumen karena lebih ringan dan fleksibel. Kita juga masih menunggu kemunculan arsitektur RDNA 5 yang diramal bakal jadi standar baru buat konsol dan handheld agar bisa jalanin RT tanpa bikin FPS drop ke titik nadir.
Ray Tracing itu ibarat bumbu mahal dalam masakan. Kalau pas, emang enak banget. Tapi kalau kebanyakan atau dipaksa ke bahan yang nggak pas, malah bikin rasa masakan (pengalaman main) jadi aneh.
Sebagian besar gamer lebih butuh gambar yang tajam dan gerakan yang mulus daripada sekadar pantulan genangan air yang akurat. Kalau disuruh milih antara 120 FPS tanpa RT atau 60 FPS dengan RT, kalian tahu kan jawaban mayoritas gamer?
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :
