RAM & SSD Diprediksi Makin Mahal di Q1 2026
Kondisi pasar memori global diprediksi semakin tidak sehat di awal 2026. Laporan terbaru dari TrendForce menunjukkan bahwa permintaan masif dari AI dan data center pada Q1 2026 terus memperlebar ketimpangan antara suplai dan permintaan, sekaligus memperkuat posisi tawar produsen memori.
Dampaknya langsung terasa: TrendForce secara signifikan menaikkan proyeksi kenaikan harga untuk hampir seluruh produk DRAM dan NAND Flash.
Baca juga: Xiaomi G Pro 27Qi Resmi Dirilis, Spesifikasi Gila dengan Harga Perusak Pasar
Table of Contents
Revisi Gila-gilaan Proyeksi Harga
Dalam laporan terbarunya, TrendForce merevisi kenaikan harga kontrak DRAM konvensional dari 55–60% → 90–95% QoQ dan NAND Flash dari 33–38% → 55–60% QoQ. Ini belum final, dimana TrendForce menegaskan bahwa revisi ke atas masih sangat mungkin terjadi jika kondisi pasar terus memburuk.
Salah satu pemicu utama krisis ini adalah pengiriman PC pada Q4 2025 yang melampaui ekspektasi, sehingga stok PC DRAM langsung terkuras.
Bahkan OEM PC kelas atas (tier-1) yang sudah mengamankan alokasi dari pemasok memori kini mengalami penurunan inventori signifikan.
Dalam pasar yang sepenuhnya dikuasai penjual:
- Harga PC DRAM di Q1 2026 diprediksi naik lebih dari 100% QoQ
- Ini akan menjadi lonjakan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah PC DRAM
Bagi pasar rakitan PC dan laptop konsumen, kondisi ini hampir pasti akan berujung pada kenaikan harga komponen secara luas.
Server DRAM LPDDR Ikut Terimbas
Situasi tak kalah parah terjadi di segmen server DRAM. Sejak Januari, CSP (Cloud Service Provider) besar di Amerika Utara dan Tiongkok masih melakukan negosiasi perjanjian jangka panjang (LTA) dengan produsen memori.
Namun suplai yang sangat terbatas membuat persaingan antar pembeli makin brutal. Akibatnya Harga server DRAM diperkirakan naik ~90% QoQ di Q1 2026 dan ini juga menjadi rekor kenaikan kuartalan tertinggi untuk segmen server.
Produsen memori kini harus membagi kapasitas secara ekstrem, menyeimbangkan permintaan aktual pelanggan dengan kepentingan akun strategis jangka panjang.
Ketimpangan suplai DRAM juga menjalar ke perangkat mobile. TrendForce memprediksi:
- LPDDR4X naik ~90% QoQ
- LPDDR5X naik ~90% QoQ
Keduanya mencetak kenaikan tertinggi dalam sejarah LPDDR.
Kontrak dengan brand smartphone asal AS sebagian besar sudah dikunci sejak akhir 2025, sementara negosiasi dengan vendor Tiongkok diperkirakan baru mencapai titik krusial akhir Februari 2026, setelah kontrak Q4 2025 dan libur Imlek selesai.
NAND Flash Ikut Terdorong Naik
Di sisi NAND Flash, permintaan Q1 2026 disebut jauh melampaui kapasitas produksi pemasok. Ironisnya, produsen memori justru lebih tertarik memaksimalkan profit DRAM, sehingga:
- Sebagian lini produksi dialihkan dari NAND ke DRAM
- Ekspansi kapasitas NAND jadi semakin terbatas
Dalam jangka pendek, peningkatan output NAND hanya bisa dicapai lewat optimasi proses, bukan ekspansi besar-besaran—membuat krisis suplai sulit diatasi.
AI Jadi Mesin Penghancur Pasar Storage
Permintaan storage berperforma tinggi melonjak tajam seiring pesatnya adopsi AI inference. Sejak akhir 2025, CSP besar di Amerika Utara dilaporkan menggenjot pembelian secara agresif, memicu lonjakan pesanan enterprise SSD.
Ketika suplai semakin ketat dan permintaan tak melambat, harga storage kelas enterprise pun ikut terdorong naik—dan pada akhirnya, efek domino ke pasar konsumen hampir tak terelakkan.
Jika proyeksi TrendForce ini terealisasi, maka RAM DDR4 & DDR5 makin tidak masuk akal, SSD berpotensi naik bersamaan dan rakitan PC murah makin sulit diwujudkan
Singkatnya, AI bukan cuma mengubah industri teknologi—tapi juga sedang merusak keseimbangan harga hardware global.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :



