>

Survei GDC 2026: 52% Developer Anggap AI Merusak Industri Game

Survei GDC 2026: 52% Developer Anggap AI Merusak Industri Game

Meskipun eksekutif teknologi terus mempromosikan AI sebagai masa depan, para pengembang game di baris depan justru merasa sebaliknya. Survei State of the Game Industry 2026 dari GDC mengungkapkan bahwa 52% profesional merasa AI generatif memberikan dampak negatif bagi industri—angka ini melonjak tajam dibanding hanya 18% pada dua tahun lalu.

Baca juga: Akui Kepercayaan Pengguna Windows 11 Rusak, Microsoft Fokus Perbaiki Stabilitas

Hanya dalam waktu singkat, pandangan positif terhadap AI di industri game nyaris punah.

  • 2024: Hanya 18% responden yang menganggap AI berdampak negatif.
  • 2025: Angka tersebut naik menjadi 30%.
  • 2026: Kini, mayoritas (52%) memandang AI sebagai ancaman.

Sebaliknya, dukungan terhadap AI justru merosot. Tahun lalu, 13% responden masih melihat sisi positif, namun sekarang angka tersebut hanya tersisa 7%.

Siapa yang Paling Membenci AI?

Kebencian terhadap teknologi ini paling kuat dirasakan oleh departemen kreatif yang paling berisiko tergantikan:

  1. Visual & Technical Art: 64% (Sangat tidak setuju).
  2. Game Design & Narrative: 63% (Kekhawatiran akan hilangnya orisinalitas).
  3. Programming: 59% (Kekhawatiran akan kode hasil “plagiarisme”).

Statistik Penggunaan AI di Industri (Data 2026)

Sektor Persentase Penggunaan
Bisnis & Pemasaran / PR 58%
Penerbit (Publishing) 58%
Studio Pengembangan (Devs) 30%
Rata-rata Industri 36%

Perdebatan ini diwarnai kutipan-kutipan ekstrem dari kedua belah pihak. Jack Buser (Global Director for Games di Google Cloud) menyebut AI sebagai “Baju Iron Man” yang bisa memperkuat kemampuan setiap pengembang.

Namun, pengembang di lapangan memiliki perumpamaan yang jauh lebih kelam. Seorang konsultan desain game asal AS menyatakan:

“Aturan baku kami: Jika salah satu dari kami mengusulkan pakai GenAI, anggap saja kami sudah berasimilasi dengan monster di film ‘The Thing’ dan harus dibakar hidup-hidup oleh Kurt Russell.”

Kelompok yang menolak AI berargumen bahwa teknologi ini dibangun di atas “pencurian dan plagiarisme”—sebuah amalgamasi dari karya-karya sebelumnya tanpa izin dari kreator aslinya.

Meskipun banyak digunakan, 81% responden mengaku hanya menggunakan AI untuk riset atau brainstorming. Untuk tugas yang lebih teknis, penggunaannya masih terbatas:

  • Bantuan penulisan email & administratif: 47%
  • Bantuan penulisan kode: 47%
  • Pembuatan prototipe: 35%

Dalam hal alat yang digunakan, ChatGPT masih mendominasi (75%), disusul oleh Google Gemini (37%) dan Microsoft Copilot (22%).

Comments

VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

Indra Setia Hidayat

Saya bisa disebut sebagai tech lover, gamer, a father of 2 son, dan hal terbaik dalam hidup saya bisa jadi saat membangun sebuah Rig. Jauh didalam benak saya, ada sebuah mimpi dan harapan, ketika situs ini memiliki perkembangan yang berarti di Indonesia atau bahkan di dunia. Tapi, jalan masih panjang, dan cerita masih berada di bagian awal. Twitter : @murdockcruz Email : murdockavenger@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.