Prancis Larang Medsos untuk Anak di Bawah 15 Tahun, Ponsel Dilarang di Sekolah!
Prancis baru saja mengambil langkah drastis dalam perang melawan dampak negatif teknologi digital. Majelis Nasional Prancis resmi menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) yang melarang akses media sosial bagi anak di bawah usia 15 tahun dan memberlakukan larangan total penggunaan ponsel di seluruh sekolah menengah atas (SMA).
Langkah ini menyusul kebijakan serupa yang diterapkan Australia bulan Desember lalu, menandakan tren global di mana negara-negara maju mulai memperketat aturan terhadap raksasa teknologi.
Baca juga: Akui Kepercayaan Pengguna Windows 11 Rusak, Microsoft Fokus Perbaiki Stabilitas
“Emosi Anak Kita Bukan untuk Dijual”
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang menjadi pendukung utama undang-undang ini, menyatakan bahwa langkah ini sangat krusial untuk melindungi kesejahteraan mental anak-anak.
“Masa depan dan emosi anak-anak serta remaja kita tidak boleh dimanipulasi oleh algoritma perusahaan Amerika dan China. Mimpi mereka tidak boleh didikte oleh kode komputer,” tegas Macron dalam pidatonya.
Hampir seluruh anggota parlemen dari berbagai spektrum politik memberikan dukungan (130 setuju, 21 menolak), sebuah persatuan yang jarang terjadi di Prancis, demi melindungi anak-anak dari ancaman cyber-bullying dan konten yang tidak pantas.
Jika disetujui oleh Senat dalam beberapa minggu ke depan, aturan ini akan mulai berlaku pada tahun ajaran baru di bulan September 2026. Analis melihat langkah Prancis ini akan memicu efek domino di Uni Eropa. Negara-negara seperti Jerman, Denmark, Spanyol, dan Italia dikabarkan tengah mengamati jalannya hukum ini sebelum menerapkan kebijakan serupa.
Sebagai perbandingan, saat Australia menerapkan aturan ini Desember lalu, lebih dari 4,7 juta akun yang terdeteksi milik anak di bawah umur langsung dinonaktifkan secara massal dalam hitungan hari.
Kebijakan di Prancis dan Australia ini memberikan pesan kuat bahwa era “kebebasan tanpa batas” bagi anak-anak di dunia maya sudah berakhir. Fokus pemerintah di berbagai belahan dunia kini bergeser ke kedaulatan emosional anak-anak agar tidak menjadi tawanan algoritma penghasil dopamin.
Bagi para orang tua dan pendidik, ini adalah sinyal bahwa teknologi tidak selamanya harus ada di tangan anak-anak, terutama di lingkungan sekolah yang seharusnya fokus pada interaksi sosial nyata dan pendidikan.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

