Xbox Kian Terpuruk, Penjualan Konsol Di 2025 Anjlok 32%
Kondisi bisnis Xbox kian memburuk. Laporan keuangan terbaru Microsoft menunjukkan bahwa pendapatan hardware Xbox anjlok 32% secara tahunan, sementara divisi gaming secara keseluruhan turun 9%. Penurunan ini menjadi kontras tajam di tengah performa Microsoft yang justru sedang moncer.
Dalam laporan Q2 tahun fiskal 2026 yang berakhir pada 31 Desember 2025, Microsoft mencatat pendapatan gaming sebesar USD 5,99 miliar, turun USD 623 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Error “Content Isn’t Available” Di YouTube, Senjata Baru Lawan Ad Blocker?
Konsol Lesu, Game First-Party Tak Menolong
Microsoft secara terang menyebut dua faktor utama penyebab penurunan:
- Penjualan konsol Xbox yang terus melemah
- Performa game first-party yang berada di bawah ekspektasi
Pendapatan Xbox hardware turun 32%, sementara konten dan layanan—termasuk Game Pass—ikut turun 5%. Ini menjadi sinyal penting bahwa strategi layanan yang selama ini diandalkan Microsoft belum sepenuhnya mampu menutup penurunan bisnis konsol.
CFO Microsoft Amy Hood bahkan mengonfirmasi bahwa tren ini belum akan berhenti. Microsoft memperkirakan:
- Pendapatan Game Pass akan tumbuh
- Penjualan hardware Xbox akan kembali turun di Q3
Salah satu faktor paling krusial adalah performa Call of Duty: Black Ops 7, yang jauh dari harapan. Meski menjadi rilisan besar, game ini disebut sebagai salah satu penyebab utama lemahnya kinerja divisi gaming.
Dalam 26 hari pertama peluncurannya di Steam, Black Ops 7 hanya terjual sekitar 401 ribu kopi—turun 82% dibanding Black Ops 6 yang mencatat 2,3 juta kopi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, jumlah pemain aktif harian saat peluncuran juga jauh lebih rendah dibandingkan:
- Black Ops 6 (2024)
- Modern Warfare 2 (2022)
Empat game first-party yang dirilis Microsoft selama kuartal ini adalah:
- Ninja Gaiden 4
- Keeper
- The Outer Worlds 2
- Call of Duty: Black Ops 7
Namun, menurut Amy Hood, rilisan tersebut tidak mampu memberikan dampak signifikan lintas platform.
Ironisnya, pelemahan Xbox terjadi di saat Microsoft secara keseluruhan justru mencatat performa luar biasa. Pada kuartal yang sama:
- Pendapatan total Microsoft naik 17% YoY menjadi USD 81,3 miliar
- Laba operasional naik 21% menjadi USD 38,3 miliar
Artinya, Xbox kini semakin terlihat sebagai outlier negatif di dalam ekosistem Microsoft.
Tahun Sulit bagi Brand Xbox
Sepanjang 2025, posisi Xbox memang semakin tertekan. Xbox Series X dan Series S terus tertinggal jauh dari PlayStation 5 dalam penjualan global. Di saat yang sama, strategi jangka panjang Microsoft yang semakin condong ke layanan dan ekosistem lintas platform memicu pertanyaan besar soal masa depan hardware Xbox.
Kepercayaan publik juga terpukul oleh:
- Penutupan studio besar
- Gelombang PHK pasca akuisisi Activision Blizzard
- Respons yang campur aduk terhadap game first-party terbaru
Bagi sebagian penggemar lama, Xbox kini terasa kehilangan identitas: tidak dominan di hardware, tidak konsisten di eksklusif, dan terlalu bergantung pada Game Pass sebagai penyelamat.
Xbox sendiri berada di bawah segmen More Personal Computing, bersama Windows, Devices, serta Search & News Advertising. Segmen ini mencatat:
- Pendapatan turun 3% menjadi USD 14,25 miliar
- Laba operasional turun 3% menjadi USD 3,8 miliar
Dengan tren ini, tekanan terhadap Xbox kemungkinan akan semakin besar di tahun fiskal berikutnya.
Microsoft masih punya modal besar, ekosistem luas, dan Game Pass yang tetap relevan. Namun data keuangan terbaru ini memperjelas satu hal:
strategi Xbox saat ini belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Apakah Microsoft akan tetap mempertahankan konsol sebagai pilar utama, atau perlahan menggeser Xbox menjadi sekadar layanan lintas platform—jawabannya mungkin akan mulai terlihat dalam beberapa kuartal ke depan.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

