Ekspektasi vs Realita: 56% CEO Akui AI Belum Kasih Cuan, Tapi Masih Terus “Bakar Uang”
Di tengah narasi besar bahwa AI merupakan “tongkat sihir” bagi bisnis modern, realita di lapangan justru berkata lain. Berdasarkan survei global terbaru dari PwC terhadap 4.454 CEO di 95 negara, ditemukan fakta pahit: lebih dari separuh pemimpin perusahaan (56%) mengaku belum melihat keuntungan finansial yang signifikan dari investasi AI mereka hingga saat ini.
Baca juga: Editorial Januari 2026: Ketika Harga Sepasang RAM Setara Satu Unit PC
Angka-Angka di Balik Hype AI
Survei ini memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks daripada sekadar “AI itu bagus.” Meskipun hampir semua perusahaan sudah mulai mengadopsi teknologi ini, hasilnya masih sangat bervariasi.
| Dampak Finansial AI | Persentase CEO |
| Tidak ada keuntungan biaya atau pendapatan | 56% |
| Melihat peningkatan pendapatan (12 bulan terakhir) | 33% |
| Melihat penurunan biaya operasional | 26% |
| Mengalami peningkatan biaya operasional | 22% |
| Melihat peningkatan pendapatan DAN penurunan biaya | 12% |
Yang paling mengkhawatirkan adalah fakta bahwa 22% CEO justru melaporkan biaya mereka membengkak setelah mengadopsi AI. Hal ini memperkuat kecurigaan bahwa AI saat ini mungkin masih berada dalam fase “gelembung” (bubble) yang mahal.
Masalah utama bukan hanya pada teknologi, tapi pada sumber daya manusia. Sekitar 69% CEO percaya bahwa AI generatif akan menuntut sebagian besar tenaga kerja mereka untuk mempelajari keterampilan baru dalam tiga tahun ke depan.
Namun, ada ironi besar di sini: kurang dari separuh dari mereka yang menyatakan memiliki rencana jelas untuk melakukan reskilling (pelatihan ulang) karyawan secara massal. Para pemimpin nampaknya bertaruh pada transformasi AI sambil tetap “meraba-raba” bagaimana cara orang-orang mereka akan beradaptasi.
Terjebak dalam Pilot Project
Data PwC menunjukkan bahwa bagi banyak organisasi, AI masih terjebak di laboratorium eksperimen. Alih-alih merombak model operasi atau cara pengambilan keputusan, AI masih sebatas digunakan sebagai:
- Alat produktivitas terisolasi (seperti chatbot internal).
- Proyek percontohan (pilot project) berskala kecil.
- Eksperimen yang belum terintegrasi ke inti bisnis.
Mengapa CEO tetap optimis meski belum ada cuan? 75% CEO tetap berekspektasi AI akan mendongkrak profitabilitas dalam 12 bulan ke depan.
Ini merupakan fenomena klasik FOMO (Fear of Missing Out) di tingkat korporasi. CEO tidak menggandakan investasi karena AI sudah terbukti bekerja, melainkan karena risiko tidak bertransformasi terasa jauh lebih menakutkan daripada risiko merugi saat ini.
Jika kita hubungkan dengan kenaikan harga komponen (RAM dan SSD) yang kita bahas sebelumnya, situasi ini menjadi sangat kontradiktif: Perusahaan berebut membeli hardware mahal untuk melatih AI, namun mereka sendiri belum tahu kapan modal tersebut akan kembali. Jika profitabilitas tidak segera terwujud dalam 1-2 tahun ke depan, gelembung AI ini terancam pecah dengan dampak yang masif.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :


