>

Amazon Suntik Mati New World, Bos Rust Siap Beli 400 Miliar?

Amazon Suntik Mati New World, Bos Rust Siap Beli 400 Miliar?

Sejarah mencatat bahwa uang melimpah dan infrastruktur cloud raksasa tidak menjamin keabadian sebuah dunia digital. Amazon Game Studios resmi mengumumkan bahwa New World: Aeternum akan menghentikan seluruh operasinya (EoS) pada akhir Januari 2026.

Baca jugaa: AMD Dikabarkan Lebih Prioritaskan Radeon RX 9070 XT Ketimbang Non XT

Kejatuhan Sang Raksasa MMO

Efektif segera, game ini telah ditarik dari seluruh toko digital (Steam dan konsol). Bagi mereka yang tidak sempat memilikinya, gerbang menuju Aeternum kini telah tertutup selamanya.

Saat diluncurkan pada 2021, New World menjadi titan di platform Steam dengan rekor hampir satu juta pemain aktif secara bersamaan. Namun, perjalanan selanjutnya adalah rangkaian turbulensi: desain quest yang repetitif, masalah teknis yang tak kunjung usai, hingga konten endgame yang dianggap tipis oleh para veteran MMO. Meski Amazon terus menyuntikkan dana dan pembaruan, basis pemain terus menyusut hingga mencapai titik di mana server tidak lagi layak dipertahankan.

Tawaran $25 Juta: “Game Tidak Boleh Mati”

Menariknya, pengumuman penutupan ini memicu reaksi tak terduga dari Alistair McFarlane, COO dari Facepunch Studios (pengembang game bertahan hidup populer, Rust). Secara mengejutkan, McFarlane mengajukan tawaran sebesar $25 juta (sekitar Rp400 miliar) untuk membeli hak milik New World dari Amazon.

Melalui unggahan di platform X, McFarlane menyebutnya sebagai “penawaran terakhir” dengan prinsip teguh bahwa: “Sebuah game tidak seharusnya mati.”

Diskusi ini pun memancing komentar dari para pengembang besar lainnya seperti Bucky (Palworld) “Bercanda menawarkan diri untuk patungan (“go halfs”) asalkan mereka bisa merilis ulang versi Alpha asli New World.” atau dari Simon Collins-Laflamme (Hytale): Ikut memberikan saran mengenai cara “membeli game yang dibatalkan.”

McFarlane berargumen bahwa jika Amazon tidak ingin menjualnya, mereka setidaknya harus memberikan kendali kepada komunitas dengan merilis infrastruktur agar server bisa di-host secara mandiri oleh pemain.

“Sebuah game akan hidup selamanya di tangan komunitas yang berdedikasi,” tulisnya. Filosofi ini adalah kunci mengapa Rust tetap relevan selama bertahun-tahun, berbeda dengan model pusat data tertutup milik Amazon yang membuat sejarah pemain bisa terhapus begitu saja saat tombol “Off” ditekan.

Kegagalan New World menjadi pengingat keras bagi para raksasa teknologi: Membangun MMO bukan sekadar urusan kecanggihan server atau integrasi cloud. MMO adalah tentang komunitas dan narasi yang hidup.

Langkah McFarlane, meski mungkin terasa seperti candaan antar pengembang, menyoroti masalah serius di industri game modern—preservasi digital. Saat sebuah dunia virtual ditutup, ribuan jam sejarah kolaborasi pemain hilang begitu saja. Jika New World benar-benar mati total tanpa opsi server komunitas, maka Aeternum hanya akan menjadi catatan kaki yang mahal dalam sejarah kegagalan ambisi gaming Amazon.

Comments

VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

Indra Setia Hidayat

Saya bisa disebut sebagai tech lover, gamer, a father of 2 son, dan hal terbaik dalam hidup saya bisa jadi saat membangun sebuah Rig. Jauh didalam benak saya, ada sebuah mimpi dan harapan, ketika situs ini memiliki perkembangan yang berarti di Indonesia atau bahkan di dunia. Tapi, jalan masih panjang, dan cerita masih berada di bagian awal. Twitter : @murdockcruz Email : murdockavenger@gmail.com