Editorial Januari 2026: Ketika Harga Sepasang RAM Setara Satu Unit PC
Beberapa tahun lalu, kita mengutuk para penambang kripto karena membuat harga kartu grafis (VGA) menjadi tidak masuk akal. Hari ini, di Januari 2026, kita menghadapi “penjahat” baru yang jauh lebih sunyi namun lebih mematikan bagi dompet para perakit PC: Kepingan RAM.
Selamat datang di era di mana “mendang-mending” bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keputusasaan.
Baca juga: Intel: Pasar Laptop Masih Aman dari Krisis DRAM, Setidaknya Hingga 2026
Table of Contents
Logika yang Terjungkir Balik
Mari kita bicara angka, karena angka tidak pernah berbohong, meski kali ini angkanya terasa seperti lelucon. Tahun lalu atau bahkan beberapa bulan lalu, kalian bisa membawa pulang satu set RAM DDR5 32GB (6000 MHz) dengan harga berkisar Rp1,3 hingga Rp2 jutaan. Itu adalah harga yang wajar untuk sebuah komponen pendukung.
Namun hari ini? Kepingan yang sama dibanderol di angka Rp5 hingga Rp6 juta! Coba kalian resapi sejenak. Dengan nominal yang sama, kalian bisa membangun satu unit PC entry-level lengkap (APU build) atau menebus sebuah NVIDIA RTX 4060 bahkan RTX 5060 yang merupakan otak dari pemrosesan grafis.
Secara logika industri, bagaimana mungkin sebuah komponen penyimpanan sementara (volatile memory) memiliki nilai ekonomi yang sama dengan sebuah prosesor grafis kompleks yang memiliki ribuan cuda core dan arsitektur rumit? Ini adalah absurditas pertama.
Dilema DDR4
Banyak dari kita yang berpikir, “Ah, saya tetap di DDR4 saja, lebih murah.” Sayangnya, para raksasa memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron nampaknya sudah membaca skenario pelarian tersebut.
Harga RAM DDR4 16GB yang dulu bisa kita dapatkan dengan recehan 500 sd 800 ribuan, kini merangkak naik hingga menembus Rp2 juta. Tidak ada lagi tempat bersembunyi. Jalur penyelamatan bagi perakit PC budget telah resmi ditutup. Membeli RAM di tahun 2026 terasa seperti membeli emas di tengah inflasi: harganya naik bukan karena kualitasnya bertambah, tapi karena pasokannya dikangkangi oleh ambisi lain.
AI: Sang “Anak Emas” yang Merebut Jatah
Siapa yang harus disalahkan? Jawabannya singkat: AI. Dunia sedang gila Artificial Intelligence. Pabrikan memori lebih memilih mengalokasikan lini produksi mereka untuk memproduksi HBM3E (High Bandwidth Memory) yang jauh lebih menguntungkan untuk dijual ke raksasa seperti NVIDIA guna mengisi server-server AI mereka.
Konsumen rumahan, gamer, dan rakitan PC kantoran hanyalah “anak tiri” yang mendapatkan sisa-sisa jatah produksi. Kita dipaksa membayar harga “premium server” untuk barang konsumsi harian. Sam Altman dan mimpi AGI-nya mungkin akan mengubah dunia, tapi untuk saat ini, mereka sukses menghancurkan hobi rakit PC jutaan orang.
Krisis SSD: Ketika Data Menjadi “Emas Putih”
Namun, horor yang sebenarnya baru saja dimulai saat kita melihat harga penyimpanan. SSD yang selama bertahun-tahun harganya terus turun hingga kita terbiasa mendapatkan 1TB dengan harga murah, kini berbalik arah secara beringas.
- Dulu: SSD NVMe Gen4 2TB bisa ditebus di kisaran 1,5 hingga 2 jutaan.
- Sekarang (2026): Jangan kaget jika melihat label harga 4 hingga 5 juta untuk kapasitas yang sama.
Mengapa ini terjadi? Alasannya tetap sama: AI. Pusat data (data center) yang dibangun oleh raksasa teknologi tidak hanya butuh RAM yang cepat, tapi juga butuh flash storage (NAND) dalam jumlah masif untuk menyimpan dataset AI yang tak terbatas. Pabrikan seperti Samsung dan WD lebih memilih menyuplai pesanan ribuan unit untuk server daripada melayani kita, para perakit PC individu.
Rakit PC 10 Juta: Sekarang Dapat Apa?
Mari kita buat simulasi menyedihkan. Jika di tahun 2024 uang Rp10 juta bisa menghasilkan PC gaming yang sangat mumpuni, di tahun 2026 uang tersebut habis hanya untuk:
- RAM DDR5 32GB: Rp6 Juta
- SSD NVMe 1TB: Rp3 Juta
- Sisa: Rp1 Juta (Cukup untuk casing dan power balik tanpa CPU/VGA).
Ini bukan lagi sekadar inflasi; ini adalah disrupsi pasar yang brutal. Kita dipaksa membayar harga tingkat industri untuk penggunaan personal.
PC Gaming: Menjadi Barang Mewah (Lagi)
Kondisi ini menciptakan jurang yang sangat lebar. Rakit PC dengan budget 10 juta di tahun 2026 hanya akan menghasilkan spesifikasi yang menyedihkan karena hampir 40-50% anggarannya habis hanya untuk RAM dan SSD.
Industri sedang mendorong kita ke titik nadir. Jika tren ini berlanjut, PC bukan lagi alat produktivitas rakyat, melainkan barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang tidak keberatan membayar harga satu unit motor untuk sebuah kotak besi berisi kabel.
Kesimpulan: Jangan Membeli Jika Tidak Terdesak
Editorial kami tegas: Tunda rakit PC kalian jika memungkinkan. Membeli RAM DDR5 32GB seharga 6 juta merupakan bentuk kekalahan konsumen terhadap monopoli industri. Kecuali kalian seorang profesional yang menghasilkan uang dari perangkat tersebut, membayar harga “kiamat” ini hanya akan memperpanjang umur gelembung harga ini.
Saat ini, musuh kita bukan lagi scalper di Shopee atau Tokopedia, melainkan kebijakan global yang menganaktirikan pengguna PC demi ego kecerdasan buatan. Januari 2026 menjadi pengingat pahit bahwa di dunia PC, komponen kecil seperti RAM bisa berubah menjadi faktor penentu paling menyakitkan bagi pengguna.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :




