Siap-Siap, Harga SSD Dikabarkan Bakal Naik Gara-Gara AI
Pasar komponen PC kembali menghadapi tantangan baru. Setelah harga kartu grafis (GPU) melambung karena penambangan crypto dan permintaan AI, kini giliran sektor penyimpanan yang terancam mengalami inflasi harga. Permintaan server AI yang melonjak tajam menjadi pemicu utamanya, dan efeknya bisa saja dirasakan oleh konsumen PC biasa.
Baca juga: AMD Rilis Prosesor Baru, Makin banyak Pilihan Bagi Penggemar
Inti masalahnya terletak pada kebutuhan server AI untuk penyimpanan data yang sangat besar. Server-server ini, yang berfungsi untuk mendukung berbagai aplikasi AI, membutuhkan media penyimpanan yang bisa diakses secara teratur, namun tidak harus secepat SSD. Di sinilah Hard Drive (HDD) berperan. Dengan harga per gigabyte yang jauh lebih murah dibandingkan SSD, HDD menjadi pilihan ideal untuk penyimpanan “hangat” atau “dingin” dalam jumlah masif.
Namun, permintaan yang tak terduga ini kini membuat pasokan menjadi sangat ketat. Waktu tunggu untuk mendapatkan drive baru pun memanjang. Western Digital dan SanDisk telah mengumumkan kenaikan harga. Western Digital, misalnya, menaikkan harga semua produk HDD-nya sebesar 30% dan bahkan terpaksa menggunakan pengiriman via laut, yang bisa memperpanjang waktu pengiriman hingga 10 minggu.
SSD Ikut Terdampak
Ketika pasokan HDD menipis, beberapa perusahaan server AI mulai beralih ke SSD sebagai pengganti, meskipun biayanya jauh lebih mahal. Akibatnya, permintaan terhadap SSD juga meningkat. Merespons hal ini, SanDisk mengumumkan kenaikan harga 10% untuk SSD dan produk NAND lainnya. Sementara itu, Micron membekukan penawaran harga NAND dan DRAM mereka, menandakan ketidakpastian pasokan di masa depan.
Saat ini, harga penyimpanan untuk konsumen masih relatif stabil. Menurut data PCPartPicker, harga SSD dan HDD tidak banyak berubah dalam 18 bulan terakhir. Namun, stabilitas ini tidak akan bertahan lama jika permintaan dari perusahaan terus meningkat.
Dampak dari booming AI tidak hanya terbatas pada harga penyimpanan. Ekspansi pusat data telah menyebabkan peningkatan biaya energi dan bahkan masalah lingkungan. Di Georgia, AS, penduduk melaporkan bahwa pusat data lokal telah membuat air mereka tidak layak minum. Di Inggris, pejabat bahkan pernah menganjurkan warga untuk menghapus file pribadi guna menghemat air yang digunakan untuk mendinginakan pusat data.
Meskipun ada kekhawatiran tentang “gelembung AI,” infrastruktur yang dibangun saat ini bisa jadi sangat berharga di masa depan. Sama seperti pusat data yang dibangun saat gelembung dot-com akhirnya menjadi tulang punggung internet, infrastruktur AI hari ini bisa menjadi fondasi untuk inovasi masa depan, terlepas dari seberapa lama tren ini akan bertahan.
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

