WhatsApp Mulai Tampilkan Iklan: Privasi Dijaga, Tapi Batasnya Kian Kabur
WhatsApp, aplikasi pesan instan paling populer di dunia, akhirnya secara resmi memasuki era periklanan—sebuah langkah yang sebelumnya sempat ditunda-tunda sejak janji pertama kali diumumkan beberapa tahun lalu. Meta, perusahaan induk WhatsApp, mengklaim bahwa langkah ini dilakukan tanpa mengorbankan privasi pengguna. Namun, kepercayaan publik terhadap batas antara monetisasi dan perlindungan data kembali diuji.
Baca juga: AMD Dikabarkan Bakal Rilis Ryzen 7 9700F Non iGPU Di Harga 4 Jutaan
Mulai tahun ini, iklan akan mulai hadir secara bertahap di tab Updates (Pembaruan) yang biasa digunakan untuk melihat Status dan mengikuti channel. WhatsApp menegaskan bahwa pengguna yang hanya memakai aplikasi untuk berkirim pesan pribadi tidak akan langsung melihat iklan. Tapi, bagi 1,5 miliar pengguna yang aktif membuka tab Updates setiap hari, pengalaman beriklan ini akan menjadi bagian dari rutinitas.
Langkah ini dianggap sebagai “evolusi alami” oleh VP of Product WhatsApp, Alice Newton Rex, terutama setelah pertumbuhan WhatsApp Business yang cukup signifikan. Kini, monetisasi diperluas melalui tiga jalur utama:
-
Promosi berlangganan channel.
-
Channel bersponsor.
-
Iklan di Status dalam tab Updates.
Tujuannya? Meningkatkan interaksi pengguna dengan channel bisnis dan memberi wadah promosi yang lebih langsung kepada pemilik channel.
Namun di tengah optimisme bisnis tersebut, banyak pengguna mengangkat kekhawatiran lama—terutama soal privasi. WhatsApp memang menegaskan bahwa pesan, panggilan, status, lokasi pribadi, kontak, dan grup tidak digunakan untuk menargetkan iklan. Yang digunakan hanyalah metadata perangkat, lokasi umum (seperti negara atau kota), serta aktivitas pengguna di tab Updates. Meski data sensitif diklaim telah dianonimkan, kekhawatiran soal bagaimana algoritma mengenali perilaku pengguna tetap membayangi.
Ironisnya, sebelum diakuisisi oleh Meta (dulu Facebook), WhatsApp justru dikenal karena janji utamanya: bebas iklan. Janji itu kini resmi dilanggar.
Sebagian pengguna mungkin tak keberatan—selama percakapan mereka tetap aman dan terenkripsi. Namun, bagi sebagian lainnya, ini adalah momen refleksi: apakah kenyamanan dan komunikasi instan pantas dibayar dengan pengalaman digital yang makin dikomodifikasi?
Dengan 98% pendapatan Meta berasal dari iklan di Facebook dan Instagram, WhatsApp kini hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi mesin monetisasi berikutnya. Pertanyaannya: apakah ini permulaan dari gelombang iklan yang lebih luas, atau Meta benar-benar bisa menjaga keseimbangan antara bisnis dan privasi?
Meskipun WhatsApp mencoba meyakinkan bahwa pengguna tetap memiliki kendali atas pengalaman mereka, banyak yang bertanya-tanya: jika hari ini iklan hanya muncul di tab Updates, lalu apa yang akan terjadi besok?
VIDEO TERBARU MURDOCKCRUZ :

